Hukum & Kriminal

Inilah Penampakan Proyek PAMSIMAS Wasian Kakas Barat yang Habiskan Duit Rp400 Juta

×

Inilah Penampakan Proyek PAMSIMAS Wasian Kakas Barat yang Habiskan Duit Rp400 Juta

Sebarkan artikel ini
KONDISI proyek PAMSIMAS di Wasian, Kakas Barat. Pipa-pipa tak berfungsi, keran kering, air keruh, dan bak penampung ditumbuhi lumut. Proyek ini menelan dana hingga Rp400 juta namun tak memberi manfaat nyata bagi warga.

EKSPOSTIMES.COM- Pipa-pipa mati, keran kering, air bau, dan bak penampung penuh lumut, itulah “warisan” dari proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Wasian, Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa.

Padahal, proyek ini dibiayai negara hingga Rp400 juta. Alih-alih mengalirkan air bersih, yang tersisa hanyalah janji-janji kosong dan dugaan penyelewengan anggaran. Dulu dielu-elukan sebagai proyek terbaik se-Sulut, kini justru jadi simbol kegagalan pengelolaan dana publik.

“Uangnya ratusan juta, tapi airnya keruh dan bau. Kami tak sanggup pakai, bahkan gratis pun ogah,” ujar salah satu warga.

Fakta lapangan lebih pahit dari narasi di atas kertas: keran tak menetes, air tercemar, dan fasilitas dibiarkan mangkrak. Hasil uji laboratorium pun membuktikan, air tidak layak konsumsi.

Steven, pengurus PAMSIMAS Desa, mengaku proyek ini hanya berjalan selama empat bulan masa uji coba. Tapi karena tak ada warga bersedia membayar iuran Rp15.000 per bulan, operasional dihentikan.

Baca Juga: Telan Rp400 Juta Duit Negara, PAMSIMAS di Wasian Kakas Barat Terbengkalai, Proyek ‘Terbaik’ Sulut Cuma Tinggalkan Pipa Kosong

Baca Juga: Ups, Ada Dana Desa Puluhan Juta Mengalir di Proyek PAMSIMAS Mangkrak Wasian Kakas Barat

“Kami stop karena tak ada biaya listrik dan perawatan. Tak ada yang mau jadi pelanggan,” aku Steven.

Setelah mangkrak dua bulan, air diuji ulang, hasilnya keruh, berbau, tak bisa diminum. Beberapa pedagang bahkan menggunakan air itu hanya untuk mencuci daging di pinggir jalan.

Warga kini menuntut transparansi: uang ratusan juta rupiah untuk apa saja?

Steven berdalih anggaran dibagi dua: dana tunai dan swadaya masyarakat, termasuk kerja bakti, sumbangan bambu, hingga sosialisasi PHBS di sekolah dan Puskesmas. Bahkan pengadaan bahan disebut dikelola pihak ketiga sesuai arahan PAMSIMAS Kabupaten.

Namun semua itu tak menjawab satu hal: mengapa airnya tak layak pakai sejak awal?

“Mau gratis pun kami tidak pakai, karena dari pertama baunya menyengat. Kalau sudah tahu tercemar, kenapa tetap dibangun?” kecam salah satu warga.

Warga mendesak Kejaksaan dan Kepolisian untuk turun tangan. Mereka mencium aroma tak sedap, bukan cuma dari air, tapi juga dari dugaan korupsi dan mark-up proyek.

“Ini bukan hanya soal air. Ini soal keadilan dan tanggung jawab terhadap uang rakyat,” tegas warga Wasian.

Dana awal Rp29 juta tahun 2019 pun dibenarkan oleh pengurus. Tapi angka-angka itu kini tengah dipertanyakan publik, seiring dengan tak berfungsinya proyek.

Kini, proyek PAMSIMAS di Wasian hanyalah monumen kematian amanah publik. Fasilitas yang dibangun dengan semangat gotong royong, justru menyisakan luka dan kecewa. (tommy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d