EKSPOSTIMES.COM – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menekankan pentingnya Indonesia untuk memperkuat produksi pangan dalam negeri sebagai langkah antisipasi terhadap kebijakan tarif timbal balik yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Kebijakan tarif tersebut tidak hanya berdampak pada sektor perdagangan internasional, tetapi juga berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan pangan di Indonesia.
Arief mengungkapkan bahwa kebijakan tarif tinggi dari berbagai negara, termasuk AS, menjadi momentum yang tepat bagi Indonesia untuk meningkatkan kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Menurutnya, situasi ini, yang dipicu oleh nilai tukar mata uang yang tinggi dan harga pangan global yang melonjak, memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk lebih mandiri dalam hal produksi pangan.
“Pada saat currency rate tinggi, harga pangan dunia tinggi, dan pemberlakuan tarif yang tinggi dari beberapa negara, bukan cuma Donald Trump, ini waktunya kita meningkatkan produksi dalam negeri,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi yang diselenggarakan Bapanas secara daring, di Jakarta, Kamis (3/4).
Arief juga menanggapi kebijakan tarif yang diumumkan oleh Presiden AS pada Rabu (2/4), yang akan memberikan tarif timbal balik sebesar 32 persen kepada Indonesia.
Baca Juga: Bapanas Pastikan Pemangkasan Anggaran Tak Ganggu Program untuk Rakyat
Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia harus mempercepat penguatan sektor pangan domestik, sehingga ketergantungan pada impor dapat diminimalisir.
“Ini menjadi tantangan bagi kita untuk lebih fokus pada peningkatan produksi pangan dalam negeri,” tambahnya.
Dalam menghadapi kebijakan tarif AS, Arief menekankan pentingnya memperkuat cadangan pangan nasional (CPP), yang berfungsi untuk menjaga kestabilan harga pangan di pasar domestik.
Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan membeli produk pangan pada harga yang kompetitif dan menyimpannya dalam kondisi beku di cold storage.
Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan, terutama pada saat kebutuhan daerah tertentu, seperti Indonesia bagian timur, tinggi.
“Misalnya, ketika harga karkas atau unggas hidup turun, kita membeli dengan harga yang baik, kemudian menyimpannya dalam cold storage dalam kondisi beku. Ketika harga pangan melonjak, kita bisa intervensi pasar untuk menjaga kestabilan harga di daerah-daerah yang membutuhkan,” jelas Arief.
Namun, dia juga mengungkapkan bahwa Bapanas sedang fokus mengembangkan teknologi untuk memperpanjang masa simpan produk pangan, sehingga kualitasnya tetap terjaga hingga distribusi ke konsumen.
Baca Juga: Menko Pangan Zulhas Genjot Serapan Beras! Target 800 Ribu Ton, Pastikan Stok Aman Jelang Lebaran
“Tantangan kita berikutnya adalah mencari teknologi yang bisa memperpanjang umur simpan produk pangan agar tidak ada kerugian akibat penurunan kualitas,” tambahnya.
Sementara itu, kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Trump telah mempengaruhi sekitar 60 negara, termasuk Indonesia, yang akan dikenakan tarif timbal balik sebesar 32 persen.
Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan negara-negara mitra dagang yang memiliki surplus perdagangan dengan AS.
Kenaikan tarif tersebut juga mencakup negara-negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand, dengan tarif yang bervariasi antara 24 hingga 49 persen.
Tarif universal yang diumumkan oleh Trump ini dijadwalkan mulai berlaku pada Sabtu (5/4), sedangkan tarif timbal balik yang lebih tinggi akan diberlakukan pada Rabu (9/4).
Bagi Indonesia, kebijakan ini menjadi tantangan baru dalam mempertahankan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional, terutama di tengah ketergantungan negara terhadap impor pangan.
Dengan situasi yang semakin kompleks ini, Arief menegaskan bahwa Indonesia harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi dampak dari kebijakan tarif dan menjaga kestabilan pasokan pangan dalam negeri.
Peningkatan produksi pangan, penguatan cadangan pangan, serta pengembangan teknologi penyimpanan pangan menjadi kunci untuk mencapai kemandirian pangan di masa depan.
“Ini adalah momen bagi kita untuk memperkuat ketahanan pangan dalam negeri. Pemerintah harus memastikan pasokan pangan tercukupi, harga stabil, dan ketergantungan pada impor berkurang,” tutup Arief. (*/Red)













