EKSPOSTIMES.COM- Ucapan kontroversial Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, menuai badai kecaman dari berbagai penjuru, terutama dari para purnawirawan TNI di Sumatera Utara. Pernyataan Hercules yang menyebut Letjen (Purn) Sutiyoso dengan istilah mulut bau tanah dinilai sangat menghina dan melecehkan kehormatan militer.
Dalam sebuah video yang viral di media sosial, Hercules melontarkan serangan verbal kepada mantan Wakil Danjen Kopassus dan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Reaksi keras langsung datang dari Dewan Kopral Purnawirawan TNI AD Sumut serta sejumlah tokoh militer nasional, termasuk Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
Baca Juga: Bukan Darurat, Ini Alasan TNI AD Dukung Pengamanan Kejaksaan Secara Rutin
“Ucapan itu bukan hanya tak pantas, tapi juga merusak tatanan nilai dalam tubuh bangsa yang menjunjung tinggi hormat kepada para senior,” ujar Hermanto, juru bicara Dewan Kopral TNI Sumut, Senin (12/5/2025).
Hermanto, dalam pernyataan emosionalnya, menyebut Hercules lupa diri dan tidak tahu berterima kasih terhadap sejarah hidupnya yang pernah dibesarkan oleh institusi militer saat menjadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO) di Timor Timur.
“Kalau kau ingin menghina para jenderal kami, langkahi dulu mayat kami. Kami bukan ayam sayur,” tegas Hermanto dalam sebuah video klarifikasi yang kini tersebar luas di TikTok dan Instagram.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Karyoto, ikut angkat bicara. Ia menyebut bahwa ucapan Hercules berpotensi melanggar hukum jika dilaporkan sebagai penghinaan terhadap tokoh publik.
“Kami melihat unsur penghinaan lisan dalam video tersebut. Siapapun yang merasa dinistakan bisa melapor dan akan kami tindak sesuai hukum,” kata Karyoto, Sabtu (10/5/2025).
Baca Juga: Ketua Ormas Jadi Tersangka Penipuan WN Filipina, LAKRI: Hukum Masih Bertaring!
Usai menuai badai kritik, Hercules akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada Sutiyoso. Dalam pernyataannya, ia mengaku menyesal dan menegaskan tetap menghormati sang jenderal senior.
“Saya mohon maaf. Tidak ada niat saya merendahkan Pak Sutiyoso. Saya tetap menghormati beliau sebagai tokoh militer dan mantan pejabat negara,” ujar Hercules.
Namun, di tengah klarifikasi itu, amarah sebagian besar kalangan purnawirawan dan masyarakat masih membara. Polemik ini membuka kembali perdebatan publik tentang batas etika kebebasan berpendapat, terutama dalam konteks penghormatan terhadap tokoh-tokoh bangsa. (tim)










