EKSPOSTIMES.COM- Harga emas global sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tengah kekhawatiran pasar terhadap ancaman tarif impor yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump. Namun, sentimen hawkish dari Federal Reserve (The Fed) terkait inflasi membebani ekspektasi penurunan suku bunga, memicu tekanan pada logam mulia.
Melansir FXStreet, Kamis (20/2/2025), pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada data klaim pengangguran AS dan S&P Global Flash PMI untuk mencari petunjuk arah pasar lebih lanjut.
Pada perdagangan Rabu waktu setempat, harga emas mengalami tekanan selama sesi Amerika Utara setelah risalah kebijakan moneter The Fed mengungkapkan bahwa seluruh pejabat bank sentral memilih untuk mempertahankan suku bunga di pertemuan Januari. Akibatnya, harga emas yang sebelumnya mencatatkan reli, harus terkoreksi.
Baca Juga: Bank Emas Pertama di Indonesia Siap Diresmikan, Airlangga: Ini Bukan Kewajiban, Tapi Opsi
Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran USD2.925 per troy ounce, turun 0,31 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Risalah The Fed menunjukkan bahwa para pejabat melihat risiko inflasi dan stabilitas ekonomi dalam kondisi yang relatif seimbang. Namun, beberapa di antaranya menyoroti potensi dampak dari perubahan kebijakan perdagangan dan imigrasi, yang dapat menghambat proses disinflasi di AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp12 Ribu, Sentuh Rp1,691 Juta per Gram
Sebelumnya, harga emas melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah di USD2.946 per troy ounce saat sesi Eropa, menyusul pernyataan Trump tentang rencana penerapan tarif 25 persen terhadap impor mobil, farmasi, dan cip.
Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil itu sempat mendapat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran pasar akan perang dagang. Namun, momentum kenaikan meredup setelah rilis risalah The Fed yang memperlihatkan kecenderungan kebijakan moneter yang tetap ketat.
Kini, para pelaku pasar akan mencermati rilis data klaim pengangguran serta S&P Global Flash PMI untuk mendapatkan gambaran lebih jelas terkait prospek ekonomi AS dan arah kebijakan moneter ke depan.
Secara teknikal, tren harga emas masih condong ke atas. Namun, dalam sepekan terakhir, emas tampak kesulitan menembus resistance kuat di level USD2.950.
Indeks Kekuatan Relatif (RSI) menunjukkan bahwa harga emas mulai keluar dari zona jenuh beli, yang dapat membuka peluang koreksi lebih dalam. Support terdekat berada di level swing low 14 Februari di USD2.877, diikuti oleh daily low 12 Februari di USD2.864.
Sebaliknya, jika emas mampu menembus kembali level USD2.946, maka resistance terdekat ada di angka psikologis USD2.950. Jika level tersebut berhasil ditembus, target kenaikan selanjutnya berada di USD3.000.
Dengan ketidakpastian kebijakan perdagangan AS serta dinamika kebijakan moneter The Fed, volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat. (Cnb/red)













Respon (1)