Ekonomi & Bisnis

Harga Emas Antam Naik, Dipicu Penguatan Global dan Ketidakpastian Kebijakan The Fed

×

Harga Emas Antam Naik, Dipicu Penguatan Global dan Ketidakpastian Kebijakan The Fed

Sebarkan artikel ini
Grafik menunjukkan lonjakan harga emas dunia mencapai USD2.985 per ounce pada Kamis, 14 Maret 2025, yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan AS dan spekulasi penurunan suku bunga oleh The Fed. Harga emas spot XAU/USD mengalami kenaikan 1,70 persen, diperkirakan akan terus melesat menuju USD3.000.
Foto Ilustrasi

EKSPOSTIMES.COM- Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menanjak pada perdagangan Rabu (26/3/2025). Kenaikan ini sejalan dengan tren harga emas dunia yang mulai bangkit setelah tertekan beberapa hari terakhir.

Emas Antam kini dibanderol Rp 1.769.000 per gram, naik Rp 10.000 dibandingkan harga sebelumnya. Sementara itu, harga buyback—harga yang ditawarkan Antam untuk membeli kembali emas dari konsumen—juga meningkat Rp 10.000 menjadi Rp 1.620.000 per gram.

Kenaikan harga emas domestik tak lepas dari pergerakan harga emas global. Di pasar spot, harga emas dunia menguat 0,38% ke level US$ 3.021 per troy ons pada penutupan kemarin.

Ini menjadi kenaikan pertama dalam empat hari terakhir setelah sempat tertekan oleh berbagai faktor makroekonomi.

Baca Juga: Harga Emas Mulai Bangkit Setelah Terkoreksi, Sentimen Trump Bikin Pasar Bernapas Lega

Namun, jika melihat tren dalam sepekan terakhir, harga emas masih mencatatkan penurunan 0,97%. Ini terjadi akibat aksi jual yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dipicu ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS).

Raphael Bostic, Gubernur The Fed Atlanta, memberikan sinyal bahwa pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve kemungkinan hanya terjadi sekali tahun ini, sebesar 25 basis poin (bps). Faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah inflasi yang masih tinggi dan sulit turun menuju target 2%.

“Saya memperkirakan hanya ada satu kali pemangkasan, mengingat inflasi masih sangat bergejolak dan sulit turun signifikan,” ujar Bostic dalam wawancara dengan Bloomberg Television. Ia bahkan memperkirakan inflasi AS baru akan kembali ke target 2% pada awal 2027.

Tahun lalu, The Fed cukup agresif memangkas suku bunga sebesar 100 bps. Namun, tahun ini, tekanan inflasi membuat bank sentral AS lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan moneter.

Kondisi ini membuat emas tetap menjadi perhatian investor. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), harga emas cenderung sensitif terhadap kebijakan suku bunga.

Jika suku bunga turun lebih lambat dari ekspektasi, daya tarik emas bisa melemah. Namun, di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi faktor yang mendukung permintaan terhadap logam mulia ini.

Dengan dinamika ini, pelaku pasar masih akan mencermati kebijakan The Fed serta pergerakan inflasi AS dalam beberapa bulan ke depan, yang berpotensi menentukan arah harga emas di masa mendatang. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *