Renungan

Renungan:Iman yang Diperhitungkan sebagai Kebenaran Kejadian 15:1-6

×

Renungan:Iman yang Diperhitungkan sebagai Kebenaran Kejadian 15:1-6

Sebarkan artikel ini
Abram menatap langit malam berbintang, merenungkan janji Allah tentang keturunan sebanyak bintang di langit.
Ilustrasi

EKSPOSTIMES.COM – Setelah mengalami kemenangan besar dalam pertempuran melawan raja-raja, Abram justru merasa takut dan gelisah. Mungkin ia khawatir akan serangan balasan dari musuh-musuhnya atau merasa kelelahan secara emosional setelah peperangan. Dalam keadaan seperti itu, Allah datang kepada Abram dan memberikan janji yang luar biasa:

“Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” (Kejadian 15:1)

Janji ini adalah jaminan perlindungan dan berkat dari Allah sendiri. Namun, meskipun menerima janji tersebut, Abram masih memiliki pertanyaan besar dalam hatinya. Ia belum memiliki keturunan, dan dalam pikirannya, satu-satunya pilihan adalah menjadikan hambanya, Eliezer, sebagai ahli warisnya.

Baca Juga: Renungan | Kasih Sejati yang Memulihkan, Kejadian 44:1–34

Abram mencoba menawarkan solusi praktis: mengadopsi hambanya sebagai ahli waris. Namun, Allah menolak gagasan ini dan menegaskan bahwa Abram akan memiliki anak kandungnya sendiri. Ini menunjukkan bahwa cara Allah sering kali berbeda dengan cara manusia. Kita cenderung mencari jalan keluar yang masuk akal dan berdasarkan pemikiran kita sendiri, tetapi Allah memiliki rencana yang lebih besar dan lebih baik.

Sering kali, ketika kita menghadapi tantangan, kita berpikir bahwa kita harus mencari solusi sendiri. Tetapi iman yang sejati adalah berserah kepada rencana Allah, meskipun tampaknya mustahil.

Allah berjanji bahwa Abram akan memiliki keturunan sebanyak bintang di langit (Kejadian 15:5). Ini adalah janji yang luar biasa karena pada saat itu:

  • Abram dan Sarai sudah tua.
  • Sarai diketahui mandul (Kejadian 11:30).

Secara manusiawi, janji ini tampak mustahil. Namun, di sinilah kebesaran Abram terlihat: dia percaya kepada Allah!

Kejadian 15:6 mengatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Ini adalah salah satu ayat paling penting dalam Alkitab karena menunjukkan bahwa iman adalah dasar kebenaran di hadapan Allah. Abram tidak dibenarkan karena perbuatannya, tetapi karena percaya kepada janji Allah.

Dalam Roma 4:3, Rasul Paulus mengutip ayat ini untuk menekankan bahwa keselamatan datang bukan dari usaha manusia, tetapi dari iman kepada Allah. Hal ini menjadi dasar bagi keselamatan dalam Yesus Kristus—kita dibenarkan bukan karena pekerjaan kita, tetapi karena iman kepada-Nya.

Kisah Abram mengajarkan kita beberapa hal penting:

  1. Jangan takut, karena Allah adalah perisai kita.
    • Seperti Abram yang gelisah setelah pertempuran, kita pun sering kali khawatir tentang masa depan. Namun, Allah meyakinkan kita bahwa Dia melindungi kita.
  2. Jangan mengandalkan solusi manusia, tetapi percayalah pada rencana Allah.
    • Terkadang kita mencoba mengambil jalan pintas dalam hidup, tetapi Allah ingin kita menunggu dan percaya kepada-Nya.
  3. Percayalah kepada Allah, bahkan ketika janji-Nya tampak mustahil.
    • Iman sejati adalah percaya kepada Allah meskipun kita belum melihat jawabannya.
  4. Iman diperhitungkan sebagai kebenaran.
    • Sama seperti Abram dibenarkan karena imannya, kita juga dibenarkan melalui iman kita kepada Yesus Kristus.

Kiranya kita semua belajar untuk percaya seperti Abram—iman yang teguh, yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Amin. (*/Riz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d