EKSPOSTIMES.COM- Di tengah ambisi besar membangkitkan sektor pariwisata pascapandemi, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengumumkan penyelenggaraan Wonderful Indonesia Awards (WIA), ajang penghargaan yang bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan kolektif untuk mendorong kualitas, inovasi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan, WIA adalah instrumen strategis untuk mengukur kemajuan dan mengapresiasi dedikasi seluruh pelaku pariwisata. Pesan itu ia sampaikan dalam Sosialisasi Kegiatan Wonderful Indonesia Awards secara daring, Rabu (13/8/2025).
“Pariwisata tidak bisa dikerjakan pemerintah pusat saja, atau daerah saja. Tidak bisa hanya masyarakat atau komunitas. Harus bersama-sama,” tegasnya.
Baca Juga: TIFF 2025: Kasdam XIII/Merdeka Dukung Pariwisata Sulut di Panggung Dunia
WIA akan melibatkan seluruh kedeputian Kemenpar sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Program ini terbagi menjadi beberapa sub bidang, mulai dari destinasi, event, sumber daya dan kelembagaan, hingga pemasaran. Tahap awal dimulai dari Sub Bidang Destinasi.
“Kenapa destinasi yang pertama? Karena destinasi adalah etalase, wajah utama pariwisata kita. Di sinilah wisatawan merasakan pengalaman, dan memutuskan untuk kembali atau tidak,” ujar Ni Luh.
WIA tidak hanya berujung pada malam puncak penghargaan. Menurut Ni Luh, “Road to WIA” adalah proses menuju gold standard pariwisata nasional, yang diharapkan menjadi acuan kualitas di seluruh Indonesia.
Sosialisasi Sub Bidang Destinasi diikuti Dinas Pariwisata dari 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Asisten Deputi Pemberdayaan Masyarakat Kemenpar, Florida Pardosi, menjelaskan bahwa kegiatan ini memperkenalkan kategori kompetisi, indikator penilaian, timeline, dan skema pelaksanaan.
Pendaftaran WIA Sub Bidang Destinasi dilakukan melalui platform Jadesta, diverifikasi oleh Dinas Pariwisata kabupaten/kota, lalu dikurasi menjadi 10 nominasi terbaik di tingkat provinsi. Dari seluruh provinsi, dipilih 60 terbaik nasional, kemudian disaring menjadi 30 finalis.
Ada satu syarat penting, destinasi atau desa wisata yang ikut WIA tidak boleh pernah menang di tingkat nasional atau internasional dalam dua tahun terakhir.
Florida menegaskan, sistem penilaian mengedepankan transparansi dan objektivitas.
“Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tapi proses pembelajaran bersama untuk menciptakan destinasi yang berkelas dunia,” ujarnya.
Dengan WIA, Kemenpar berharap lahir destinasi-destinasi baru yang tidak hanya indah di mata, tetapi juga ramah lingkungan, mengangkat kearifan lokal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini bukan lomba biasa. Ini adalah gerakan menuju pariwisata Indonesia yang sehat, berkelas, dan membanggakan di panggung dunia,” tutup Wamenpar Ni Luh. (*/tim)









