EKSPOSTIMES.COM- Dinas Pariwisata Sulawesi Utara (Sulut) mendadak jadi bulan-bulanan publik usai mengunggah promosi yang dinilai salah alamat. Alih-alih mengangkat potensi wisata lokal, Dinas justru mengajak warga Sulut liburan ke Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Unggahan bertajuk “Sightseers Sulawesi Utara! Yuk Liburan Seru ke Tana Toraja!!” itu ramai dikecam karena dianggap mencederai semangat membangun pariwisata Sulut sendiri. Dalam narasi yang diunggah di media sosial, Dinas mengajak masyarakat Sulut memanfaatkan penerbangan baru Manado–Toraja dari Wings Air, yang tersedia setiap Senin dan Jumat.
Berikut kutipan unggahan yang jadi kontroversi:
“Berangkat pagi jam 7, sampai jam 9.15, terus balik dari Toraja jam 9.40 sampai Manado jam 11.55. Gak perlu capek perjalanan darat lagi, tinggal terbang aja! Manjo, siapkan koper dan jelajahi keindahan budaya Toraja yang keren banget! Tapi jangan lupa balik yaaa trus ajakin temen-temen di Tana Toraja buat Explore Keindahan budaya Sulawesi Utara.”
Sontak, publik Sulut naik pitam. Banyak yang menganggap Dinas telah kehilangan arah dan gagal memahami tugas utamanya, yakni mengundang wisatawan masuk ke Sulut, bukan malah menyuruh masyarakat keluar daerah.
“Dinas nda jelas! Ini pariwisata Sulut atau agen tour Toraja?” ketus akun @nileyleyan_siouw.
“Seharusnya orang Toraja yang diajak datang ke Manado, bukan kita yang disuruh keluar. Ini program pariwisata atau sabotase ekonomi lokal?” sindir akun @meiren_mei.
“Sulut kaya wisata: Bunaken, Danau Linow, Lembeh, Minahasa, Talaud, Sangihe, tapi malah promosi tempat orang? Malu-maluin!” cibir akun Bang Moel.
Alih-alih membangun kebanggaan dan menggairahkan kunjungan wisatawan ke Bumi Nyiur Melambai, narasi promosi ini malah dinilai menjegal semangat lokal dan membingungkan strategi promosi daerah. Bahkan, tak satu pun destinasi unggulan Sulut disebut dalam unggahan tersebut.
Padahal Sulawesi Utara punya segudang daya tarik: laut tropis nan eksotis di Bunaken, kearifan lokal Minahasa, hingga kekayaan budaya perbatasan di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Semua itu seolah tak masuk radar narasi promosi Dinas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Dinas Pariwisata Sulut. Namun gelombang kritik kian deras. Masyarakat mendesak agar narasi promosi pariwisata ditinjau ulang secara serius, agar tidak merusak rasa bangga warga terhadap potensi daerahnya sendiri.
“Kami bangga jadi orang Sulut. Tapi tolong dong, promosikan tanah kita sendiri. Kalau Dinasnya saja tak yakin sama daerahnya, bagaimana turis mau percaya?” tutup salah satu netizen geram. (Farly)













