EKSPOSTIMES.COM- Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan bahwa dirinya telah mengadakan percakapan penting dengan Paus Leo XIV dikutip Jumat (16/5), membahas berbagai upaya untuk mengakhiri konflik bersenjata di dunia, terutama di Ukraina dan Jalur Gaza. Ini merupakan komunikasi resmi pertama Macron dengan Paus baru tersebut, yang baru terpilih pada 8 Mei lalu.
“Kami membahas upaya yang diperlukan untuk menghentikan senjata di mana pun konflik sedang berkecamuk di seluruh dunia, terutama untuk mencapai perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan di Ukraina dan Gaza,” tulis Macron melalui platform X (sebelumnya Twitter).
Dalam pernyataannya, Macron juga mengucapkan selamat kepada Paus Leo XIV, seraya menegaskan bahwa mereka berbagi visi dalam memerangi kemiskinan dan melindungi lingkungan hidup. “Kami akan mendukung siapa pun yang bekerja demi perdamaian dan dialog antarbangsa,” ujarnya.
Paus Leo XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Robert Prevost, adalah Paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik yang berasal dari Amerika Serikat. Ia menggantikan Paus Fransiskus yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Dalam penampilan publik perdananya, Paus berusia 69 tahun itu menunjukkan komitmennya terhadap misi perdamaian global, sejalan dengan seruan-seruan pendahulunya.
Dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan ribuan umat di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Paus Leo XIV menyerukan penghentian semua bentuk peperangan. Ia mengutip seruan legendaris “Jangan pernah lagi perang!” yang sering dilontarkan Paus Fransiskus dalam berbagai kesempatan.
“Saya juga memohon kepada para pemimpin dunia: jangan pernah lagi perang. Mari kita belajar dari sejarah dan dari penderitaan rakyat yang telah mengalami kehancuran dan kematian karena konflik bersenjata,” kata Leo XIV, mengacu pada tragedi Perang Dunia II yang menewaskan lebih dari 60 juta orang.
Mengenai Ukraina, Paus menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap penderitaan yang masih berlangsung akibat invasi Rusia yang telah memasuki tahun ketiga. Ia menyuarakan harapan agar setiap pihak melakukan segala upaya untuk menciptakan perdamaian yang adil dan abadi.
“Saya turut merasakan penderitaan rakyat Ukraina yang terkasih. Semoga setiap upaya dilakukan untuk mencapai perdamaian sejati, adil, dan abadi sesegera mungkin,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Paus Leo XIV juga menyoroti kondisi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza akibat operasi militer Israel yang ditujukan terhadap kelompok Hamas.
“Semoga pertempuran segera dihentikan. Semoga bantuan kemanusiaan diberikan kepada penduduk sipil yang terdampak, dan semoga semua sandera dibebaskan,” tegas Paus, merujuk pada krisis yang telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.
Dalam bagian lain pidatonya, Paus menyambut baik tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara India dan Pakistan pada Sabtu (10/5). Ia menilai itu sebagai perkembangan positif yang bisa menjadi awal menuju stabilitas kawasan.
“Saya berharap melalui negosiasi yang akan datang, kesepakatan yang langgeng dapat segera dicapai,” katanya.
Baca Juga: Paus Fransiskus Wafat di Usia 88 Tahun, Tokoh Lintas Agama Indonesia: Dunia Kehilangan Penjaga Damai
Sebelum mengakhiri pidato, Paus mengajak seluruh umat Katolik dan masyarakat dunia untuk berdoa memohon perdamaian melalui perantaraan Maria, yang disebutnya sebagai Sang Ratu Damai.
“Mari kita mohon mukjizat perdamaian kepada Tuhan Yesus,” serunya dengan penuh harap.
Percakapan antara Macron dan Leo XIV serta pidato Paus baru tersebut menegaskan bahwa Vatikan dan Prancis tetap berperan aktif dalam diplomasi moral internasional, khususnya dalam mendesak penyelesaian damai konflik bersenjata.
Dalam era di mana ketegangan geopolitik terus meningkat, seruan-seruan seperti ini menjadi suara penting yang menyerukan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan harapan. (*/tim)












