Berita UtamaEditorial

Rocky Wilar dan Masa Depan Unsrat: Saatnya Kampus Dipimpin Akademisi yang Tumbuh dari Dalam

×

Rocky Wilar dan Masa Depan Unsrat: Saatnya Kampus Dipimpin Akademisi yang Tumbuh dari Dalam

Sebarkan artikel ini

MANADO – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) tidak kekurangan orang pintar. Kampus ini memiliki banyak profesor, doktor, peneliti, dan akademisi dengan reputasi masing-masing. Namun, pertanyaan penting dalam setiap pergantian kepemimpinan bukan sekadar siapa yang paling tinggi gelar akademiknya, melainkan siapa yang memiliki pengalaman, pemahaman institusional, dan visi untuk membawa universitas melangkah lebih jauh.

Dalam konteks itulah nama Dr. dr. Rocky Wilar, Sp.A, Subsp. Neo(K), layak diperhitungkan sebagai calon Rektor Unsrat periode 2026–2030.

Rocky bukan figur yang tiba-tiba muncul ketika kontestasi pemilihan rektor dimulai. Ia adalah akademisi yang perjalanan pendidikan dan karier profesionalnya telah lama terhubung dengan Unsrat.

Ia memahami kampus bukan hanya dari balik meja pimpinan, tetapi juga dari ruang pendidikan, pelayanan kesehatan, penelitian, serta pengalaman mengelola organisasi akademik.

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Rocky: ia tumbuh bersama institusi yang kini berpeluang dipimpinnya.

Bukan Sekadar Gelar, tetapi Rekam Jejak Pengabdian

Rocky menyelesaikan pendidikan kedokteran di Unsrat pada 1996. Ia kemudian melanjutkan pendidikan spesialis anak, mendalami subspesialisasi neonatologi, dan meraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin pada 2015.

Namun, yang membuat rekam jejaknya menarik bukan semata deretan gelar tersebut.

Ia pernah menjabat Ketua Program Studi Profesi Dokter periode 2011–2015, terlibat dalam pengelolaan pendidikan dokter spesialis, serta dipercaya memimpin Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unsrat selama dua periode, 2015–2018 dan 2018–2022.

Dua periode kepemimpinan di lingkungan fakultas memberikan pengalaman menghadapi persoalan nyata pendidikan tinggi: mengelola tenaga akademik, menjaga kualitas pendidikan, membangun koordinasi, serta memastikan proses akademik berjalan.

Pengalaman seperti ini penting. Sebab, memimpin universitas bukan hanya perkara menyusun kebijakan, tetapi juga memahami bagaimana kebijakan tersebut bekerja di tingkat fakultas dan program studi.

Unsrat Membutuhkan Rektor yang Memahami Manusia di Dalam Kampus

Ada kecenderungan dalam melihat kepemimpinan perguruan tinggi bahwa keberhasilan rektor diukur melalui gedung baru, anggaran besar, atau jumlah kerja sama.

Semua itu penting. Tetapi universitas pada hakikatnya dibangun oleh manusia.

Dosen membutuhkan lingkungan yang mendukung penelitian dan pengembangan keilmuan. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk berprestasi dan menyampaikan aspirasi. Tenaga kependidikan membutuhkan tata kelola yang profesional. Alumni membutuhkan hubungan yang tidak terputus dengan almamaternya.

Di sinilah pengalaman Rocky sebagai akademisi dan pengelola pendidikan menjadi relevan.

Pada Oktober 2026, ia dipercaya menjabat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Jabatan tersebut memperluas pengalamannya dalam memahami persoalan universitas secara lebih menyeluruh.

Rocky kini berada dalam posisi yang mempertemukannya dengan berbagai kepentingan di lingkungan kampus, terutama mahasiswa dan alumni.

Jika pengalaman tersebut mampu diterjemahkan menjadi visi kepemimpinan universitas, Rocky memiliki modal untuk menawarkan pendekatan yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.

Rektor Harus Berani Membawa Perubahan

Tentu, Unsrat tidak bisa hanya berjalan dengan pola lama.

Tantangan perguruan tinggi semakin kompleks. Persaingan universitas berlangsung pada tingkat nasional maupun internasional. Kualitas publikasi ilmiah, inovasi penelitian, pengembangan teknologi, kompetensi lulusan, dan jejaring global menjadi faktor penting dalam menentukan reputasi sebuah kampus.

Unsrat membutuhkan pemimpin yang berani membenahi birokrasi akademik, memperkuat transparansi anggaran, meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas dosen, serta memberikan dukungan nyata bagi penelitian.

Kampus juga harus mampu membuka diri terhadap perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Rocky perlu menjawab tantangan tersebut dengan visi yang konkret. Bukan sekadar janji meningkatkan kualitas universitas, melainkan program yang memiliki target, tahapan, dan ukuran keberhasilan.

Sebab, pengalaman masa lalu hanya menjadi modal. Masa depan membutuhkan keberanian mengambil keputusan.

Keuntungan Memahami Unsrat dari Dalam

Salah satu kelebihan seorang pemimpin yang tumbuh dari dalam institusi adalah pemahamannya terhadap karakter organisasi.

Ia tidak membutuhkan waktu terlalu panjang untuk mengenali struktur, budaya kerja, kekuatan, maupun persoalan internal kampus.

Rocky memiliki pengalaman panjang di lingkungan Unsrat. Ia memahami dunia pendidikan profesi, dinamika fakultas, serta kebutuhan pengembangan akademik.

Namun, menjadi orang dalam bukan berarti harus mempertahankan semua kebiasaan lama.

Justru seorang pemimpin yang memahami institusi harus memiliki keberanian memperbaiki hal-hal yang selama ini menghambat kemajuan.

Rocky perlu menunjukkan bahwa kedekatannya dengan Unsrat bukan sekadar modal mengenal orang dan struktur, tetapi juga kemampuan membangun perubahan tanpa menciptakan perpecahan.

Rocky Wilar, Layak Mendapatkan Kesempatan

Membicarakan Rocky Wilar sebagai figur yang layak menjadi rektor bukan berarti mengabaikan akademisi lain yang juga memiliki kapasitas.

Pemilihan rektor harus tetap mengutamakan kompetensi, integritas, visi, rekam jejak, dan mekanisme institusional yang berlaku.

Namun, Rocky memiliki kombinasi pengalaman yang patut diperhitungkan: pendidikan akademik yang kuat, pengalaman panjang mengelola unit pendidikan, kepemimpinan fakultas selama dua periode, serta pengalaman di tingkat rektorat.

Modal tersebut membuatnya layak mendapatkan ruang dalam pembicaraan mengenai masa depan kepemimpinan Unsrat.

Yang perlu ditunggu sekarang adalah gagasan besarnya untuk universitas.

Bagaimana ia akan meningkatkan reputasi akademik Unsrat? Bagaimana nasib dosen dan mahasiswa akan menjadi prioritas? Bagaimana penelitian dapat menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi Sulawesi Utara? Bagaimana birokrasi kampus dapat dibuat lebih transparan dan efektif?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya dijawab oleh setiap kandidat.

Pada akhirnya, Unsrat membutuhkan rektor yang bukan hanya mampu menjaga universitas tetap berjalan, tetapi juga berani mengubahnya menjadi institusi pendidikan tinggi yang lebih maju, terbuka, dan kompetitif.

Rocky Wilar memiliki bekal untuk menawarkan kepemimpinan tersebut.

Kini, kesempatan terbuka baginya untuk membuktikan bahwa perjalanan panjang pengabdiannya di Unsrat dapat menjadi fondasi bagi tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Sebab, kampus besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki gelar tinggi. Kampus besar membutuhkan pemimpin yang memahami rumahnya, menghargai orang-orang di dalamnya, dan tahu ke mana harus membawanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *