EKSPOSTIMES.COM – Minahasa.
Hembusan angin sore di Tondano terasa berbeda ketika kabar terpilihnya Drs. Robby Longkutoy, M.M. sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Minahasa menyebar ke seluruh penjuru daerah. Bagi sebagian orang, ini hanyalah pergantian kepemimpinan biasa. Namun bagi pegiat antikorupsi dan pemerhati sosial, Jamel Omega Lahengko, momentum ini adalah kesempatan baru untuk mengembalikan kejayaan olahraga Minahasa yang pernah gemilang.
Sebagai Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Lembaga Anti Korupsi Republik Indonesia (LAKRI), Jamel tak sekadar menyampaikan ucapan selamat. Ia menaruh harapan besar bahwa di tangan Robby Longkutoy, KONI Minahasa akan melangkah dengan visi yang lebih bersih, profesional, dan bersinergi dengan masyarakat.
“Kami di LAKRI percaya, olahraga bukan sekadar pertandingan dan medali. Olahraga adalah simbol integritas, kerja keras, dan kebersamaan. Kami berharap kepemimpinan baru KONI Minahasa dapat menghadirkan semangat itu kembali,” ujar Jamel Omega Lahengko dengan nada optimistis.
Menurut Jamel, Minahasa memiliki sejarah panjang dalam dunia olahraga. Dari lapangan sepak bola di pelosok desa hingga gelanggang voli dan atletik di jantung kota, masyarakat Minahasa pernah dikenal dengan semangat juangnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, denyut itu seolah meredup. Banyak cabang olahraga yang tak lagi aktif, fasilitas terbengkalai, dan generasi muda kehilangan wadah untuk berprestasi.
Kini, kata Jamel, harapan itu kembali menyala. Kepemimpinan Robby Longkutoy diharapkan mampu menjadi titik balik. Tidak hanya untuk mencetak atlet berprestasi, tetapi juga untuk membangun budaya olahraga yang sehat dan bersih dari kepentingan politik maupun korupsi anggaran.
“Kami berharap KONI di bawah kepemimpinan Pak Robby mampu memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga masyarakat, dan dunia pendidikan. Sinergi itulah yang akan menghidupkan kembali semangat olahraga rakyat Minahasa,” tambah Jamel.
LAKRI, lanjutnya, siap menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi KONI. Lembaga ini akan mendukung setiap langkah positif yang bertujuan untuk membina generasi muda melalui olahraga, sekaligus mengawasi agar pengelolaan dana dan kegiatan dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Harapan terbesar LAKRI, tegas Jamel, adalah kebangkitan sepak bola Minahasa. Olahraga rakyat ini memiliki akar kuat dalam budaya lokal dan pernah menjadi kebanggaan daerah. Banyak pemain berbakat lahir dari tanah Toar Lumimuut, namun minimnya pembinaan dan sarana membuat mereka sulit berkembang.
“Sepak bola harus kembali hidup di Minahasa. Dari desa-desa hingga kota, mari kita hidupkan lagi kompetisi lokal, turnamen antar-kecamatan, dan pembinaan usia dini. Dari situlah prestasi akan tumbuh,” ujarnya.
Jamel menutup pernyataannya dengan nada penuh semangat.
“Olahraga adalah bahasa universal. Ia mempersatukan, menginspirasi, dan menanamkan nilai kejujuran. Mari bersama kita jadikan KONI Minahasa sebagai simbol perubahan, dari lapangan kecil hingga panggung nasional.” Ucap Jamel
Dengan semangat baru di bawah kepemimpinan Drs. Robby Longkutoy, M.M., dan dukungan moral dari LAKRI, masyarakat kini menatap masa depan olahraga Minahasa dengan harapan: bahwa kejayaan itu akan kembali, bukan sekadar di papan skor, tetapi di hati rakyat yang mencintai olahraga. (Farly)











