EKSPOSTIMES.COM- Tragedi keracunan massal yang menimpa ratusan warga, sebagian besar pelajar, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengguncang kepercayaan terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 176 korban dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari dua lokasi berbeda, salah satunya diduga berasal dari distribusi MBG di sekolah-sekolah.
Kejadian ini langsung memantik perhatian dari pemerintah pusat. Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk turun langsung menyelidiki sumber pasti keracunan yang terjadi secara serentak dalam dua klaster kejadian.
“Jangan spekulasi. Yang harus dicek adalah sumber utamanya. Kemenkes harus segera ambil langkah investigasi serius. Jangan sampai ada korban lagi,” tegas Cak Imin di kompleks parlemen, Rabu (23/4/2025).
Lebih lanjut, Cak Imin juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) dalam mengurai titik awal kontaminasi, mulai dari dapur pengolahan, proses distribusi, hingga penyajian di sekolah.
“Labkesda harus cepat ambil sampel. Jangan tunggu korban bertambah. Masyarakat butuh kepastian, bukan kekhawatiran,” tambahnya.
Dinas Kesehatan Cianjur telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) sejak Selasa (22/4/2025), menyusul lonjakan jumlah korban. Dari total 176 korban, 78 di antaranya merupakan siswa dan guru dari MAN 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur yang menyantap makanan MBG.
Sementara 98 korban lainnya berasal dari warga Kecamatan Mande yang menghadiri sebuah hajatan.
“Kami lakukan asesmen epidemiologi dan sudah mengamankan sampel makanan dari kedua lokasi. Tim medis dan lab sedang bekerja penuh,” ujar Yusman Faisal, Kepala Dinkes Cianjur.
Baca Juga: Mitra Dapur Laporkan Yayasan MBG ke Polisi, Diduga Gelapkan Dana Hampir Rp1 Miliar
Sebagian besar korban kini menjalani perawatan intensif di RSUD dan puskesmas sekitar. Sementara yang mengalami gejala ringan telah dipulangkan dengan pemantauan ketat.
Di sisi lain, kasus ini menjadi ujian serius bagi keberlangsungan Program MBG, yang digagas untuk memperbaiki gizi anak-anak sekolah namun kini dibayangi isu keamanan makanan.
Pemerintah pusat dan daerah berpacu menyelesaikan investigasi demi menyelamatkan citra program unggulan tersebut. Apalagi, program MBG selama ini menjadi andalan kampanye gizi nasional dan bagian dari solusi penanggulangan stunting.
Keracunan makanan di sekolah harus menjadi alarm keras bagi seluruh stakeholder, bahwa makanan bergizi juga harus dijamin keamanannya.
(Pur)













