EKSPOSTIMES.COM- Isu panas soal pertemuan sejumlah pendeta GMIM dengan Kapolda Sulut Irjen Pol Roycke Harry Langie pada 16 April 2025 menuai sorotan tajam. Tuduhan bahwa pertemuan itu bermuatan politik dan sebagai bentuk dukungan terhadap penahanan Ketua Sinode GMIM, Pdt Hein Arina, langsung dibantah tegas oleh Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulut, Pdt Lucky Rumopa, M.Th.
Dalam wawancara eksklusif via telepon, Pdt Lucky menegaskan bahwa pertemuan itu murni atas inisiatif pribadinya, bukan ajakan atau undangan dari Kapolda Sulut.
“Saya yang menginisiasi pertemuan tersebut. Tidak ada tekanan, tidak ada permintaan dari pihak manapun, termasuk dari Kapolda,” tegas Pdt Lucky, Kamis (1/5).
Pdt Lucky menjelaskan, pertemuan tersebut dilaksanakan semata-mata untuk mendapatkan penjelasan hukum yang jelas terkait kasus dana hibah yang menjerat Pdt Hein Arina. Dengan begitu, para pelayan jemaat bisa menyampaikan informasi yang benar kepada umat, dan tidak terjebak dalam rumor atau spekulasi.
“Kami datang sebagai pelayan gereja yang ingin mendapatkan kejelasan hukum, bukan membawa agenda politik,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut para pendeta yang hadir menyampaikan harapan agar penahanan terhadap Ketua Sinode bisa ditangguhkan demi kelancaran perayaan Jumat Agung dan Paskah. Namun demikian, Kapolda menjawab bahwa hal itu harus mengikuti prosedur hukum yang berlaku.
“Pak Kapolda menyampaikan secara terbuka bahwa upaya penangguhan memiliki konsekuensi hukum dan harus dikonsultasikan dengan penyidik,” tambahnya.
Menanggapi isu liar soal adanya pemberian uang oleh Kapolda kepada para pendeta, Pdt Lucky membantah keras dan menyebut informasi tersebut menyesatkan.
“Tidak ada uang dukungan. Yang ada hanya tawaran bantuan transportasi karena pertemuan berlangsung hingga malam, dan sebagian peserta datang dari jauh,” ungkapnya.
Sebagai Ketua FKUB, Pdt Lucky mengimbau seluruh masyarakat dan warga GMIM untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menghormati jalannya proses hukum.
“Kasus ini adalah persoalan hukum individu, bukan persoalan lembaga gereja. Mari kita hormati supremasi hukum dan percayakan prosesnya kepada aparat penegak hukum,” imbaunya. Sementara itu, Komandan Panji Yosua Alfa Omega Manado Timur Satu, Yusuf Wolopa, juga menyuarakan keprihatinannya atas komentar provokatif dari Pdt Billy Yohanes yang dinilai hanya memperkeruh suasana.
“Pernyataan seperti itu hanya menambah kegaduhan. Saatnya kita bersatu menjaga damai dan mendukung jalannya proses hukum,” tegasnya dalam unggahan media sosial.
Yusuf juga mengingatkan bahwa GMIM telah mengeluarkan edaran resmi untuk seluruh jemaat agar tetap tenang, tidak terpengaruh opini liar, dan terus mendoakan pihak-pihak yang sedang menghadapi proses hukum.
“Tudingan yang menyebut jumlah uang dan menyudutkan banyak pihak sangat berbahaya. Mari kita jaga persatuan dan biarkan hukum bekerja secara profesional,” tutupnya. (tim)













