Ekonomi & Bisnis

Dolar Tembus Rp 17.000-IHSG Anjlok 4 Persen, Menkeu Purbaya Sebut Dipicu Sentimen Resesi

×

Dolar Tembus Rp 17.000-IHSG Anjlok 4 Persen, Menkeu Purbaya Sebut Dipicu Sentimen Resesi

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

EKSPOSTIMES.COM- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level Rp 17.000, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam hingga sekitar 4 persen pada perdagangan awal pekan.

Pemerintah menilai gejolak tersebut lebih dipicu sentimen negatif pasar daripada memburuknya fundamental ekonomi nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pelemahan rupiah dan penurunan tajam IHSG tidak terlepas dari kekhawatiran yang berkembang di kalangan pelaku pasar setelah sejumlah ekonom menyuarakan potensi resesi ekonomi di Indonesia.

“Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah mulai resesi seperti 1998 lagi, katanya daya beli sudah hancur,” ujar Purbaya saat ditemui di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Menurut Purbaya, persepsi tersebut memicu kepanikan pasar sehingga mendorong tekanan pada mata uang rupiah dan pasar saham domestik. Namun ia menegaskan kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih jauh dari ancaman resesi.

Ia menilai aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam fase ekspansi dengan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

“Jangankan krisis, resesi saja belum. Melambat pun belum. Ekonomi kita masih ekspansi dan masih akselerasi. Itu yang terus kita jaga dalam beberapa minggu ke depan,” kata Purbaya.

Pemerintah, lanjut dia, terus memantau pergerakan pasar sekaligus memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga melalui berbagai kebijakan fiskal dan koordinasi dengan otoritas terkait.

Purbaya juga meminta pelaku pasar dan investor untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap dinamika yang terjadi. Menurutnya, pengalaman menghadapi krisis sebelumnya menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Ia mencontohkan krisis moneter 1998, gejolak keuangan global 2008–2009, serta tekanan ekonomi saat pandemi Covid-19 pada 2020 yang dinilai berhasil dilalui dengan kebijakan yang tepat.

“Pengalaman itu membuat kita lebih siap. Jadi teman-teman investor tidak perlu takut,” ujarnya.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dan IHSG tetap menjadi perhatian pasar keuangan, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta dinamika persepsi terhadap kondisi ekonomi domestik. (dtc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d