EKSPOSTIMES.COM – Minggu, 20 Juli 2025, Kabupaten Minahasa kembali dipenuhi sukacita dalam balutan tradisi tahunan yang sarat makna: Pengucapan Syukur. Di seluruh penjuru Minahasa, aroma masakan khas mulai dari ayam isi, nasi jaha, hingga kue-kue tradisional menguar di udara, menjadi simbol ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan atas berkat dan hasil panen sepanjang tahun.
Namun di balik semarak dan hiruk pikuk persiapan pesta syukur ini, suara tegas dan penuh kepedulian datang dari Hukum Tua Desa Touliang Oki, Kecamatan Eris, yang mengingatkan warganya agar tidak melupakan satu hal penting: keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Baca Juga: Desa Touliang Oki Tampil Gemilang, Jadi Contoh Nasional Pemanfaatan Dana Desa untuk Ketahanan Pangan
“Kita boleh bersukacita, tetapi jangan sampai lupa menjaga suasana damai. Mari rayakan dengan hati yang penuh syukur, bukan dengan euforia yang berlebihan,” tegas Hukum Tua Jeane E. Pakasi, S.Pd, Kamis (17/7/2025).
Jeane menegaskan bahwa perayaan Pengucapan Syukur merupakan salah satu momen sakral dan penuh kebanggaan bagi warga Minahasa, termasuk masyarakat Desa Toliang Oki. Oleh karena itu, ia mengimbau agar seluruh warga turut menjaga nama baik desa dengan tidak melakukan tindakan yang bisa mencederai semangat syukur.
“Saya minta tidak ada pesta miras, tidak ada musik hingga larut malam yang mengganggu tetangga, dan pastikan tamu-tamu yang datang dijamu dengan baik namun juga diawasi dengan bijak,” ujarnya.
Pemerintah Desa Touliang Oki, lanjut Jeane, telah berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda untuk melakukan pemantauan secara humanis selama perayaan berlangsung. Langkah ini diambil guna mencegah potensi gangguan kamtibmas yang kerap muncul saat masyarakat larut dalam euforia.
Ia juga mengajak pemuda desa untuk mengambil peran sebagai penjaga suasana damai. Bahkan, akan diberlakukan ronda malam terpadu selama akhir pekan pengucapan guna memastikan keamanan lingkungan tetap kondusif.
“Saya percaya masyarakat Toliang Oki dewasa dalam menyikapi momentum ini. Kita ingin suasana sukacita ini menjadi berkat, bukan musibah,” imbuhnya.
Sementara itu, warga setempat menyambut antusias perayaan yang setiap tahunnya menjadi magnet bagi para perantau dan kerabat dari luar daerah. Rumah-rumah mulai dipercantik, meja-meja diisi dengan sajian khas, dan suasana kekeluargaan terasa kental di udara.
“Ini waktu berkumpul, saling mengunjungi, dan menguatkan tali persaudaraan. Tapi saya setuju, semua harus tetap tertib,” ujar Brainer, salah satu warga.
Baca Juga: Hukum Tua Desa Touliang Oki Serukan Kedamaian dan Solidaritas untuk Sambut Natal dengan Sukacita
Perayaan Pengucapan Syukur sendiri bukan sekadar pesta rakyat, melainkan bagian dari identitas budaya dan spiritualitas orang Minahasa. Ia merepresentasikan nilai-nilai kebersamaan, pengorbanan, dan penghormatan terhadap Sang Pencipta.
Dengan dukungan warga dan kesiapan aparatur desa, Desa Touliang Oki berharap perayaan tahun ini menjadi salah satu yang paling damai dan berkesan.
“Syukur itu soal hati yang bersih. Dan hati yang bersih akan selalu mencintai kedamaian,” tutup Hukum Tua Jeane.













