EKSPOSTIMES.COM– Dentuman senjata api memecah keheningan pagi di Kampung Baitapa, Distrik Sugapa, Intan Jaya, Sabtu (5/7). Sekitar pukul 07.14 WIT, pasukan elit Satgas Damai Cartenz berhasil menumbangkan salah satu buronan paling dicari di Papua, Enos Tipagau, anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang namanya lekat dengan jejak darah dan teror.
Penegakan hukum yang berlangsung cepat dan mematikan itu menjadi klimaks dari pengejaran panjang aparat keamanan terhadap Enos, sosok yang disebut sebagai dalang sejumlah aksi kekerasan di Bumi Cenderawasih.
“Personel Satgas Damai Cartenz melakukan tindakan tegas dan terukur setelah memastikan lokasi persembunyian target,” ungkap Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Pol Faizal Rahmadani di Jayapura, Sabtu siang.
Menurut Brigjen Faizal, kontak senjata sempat terjadi sebelum Enos dilumpuhkan.
“Ia sempat melawan, namun kekuatan negara tak tergoyahkan. Penembakan dilakukan setelah tim memastikan keberadaan dan identitas yang bersangkutan,” tegasnya.
Jejak kriminal Enos Tipagau bukan tanpa noda mengerikan. Tercatat, ia terlibat dalam rentetan aksi brutal yang mengguncang Papua. Pada 8 Februari 2021, ia dilaporkan menembak mati seorang warga sipil bernama Ramli NR. Seminggu kemudian, ia kembali terlibat baku tembak yang menewaskan prajurit TNI, almarhum Prada Ginanjar.
Namun tragedi paling mengguncang terjadi pada 26 Oktober 2021. Dalam sebuah kontak tembak di Kampung Mamba, bocah malang berusia dua tahun, Apertinus Sondegau, meregang nyawa. Dua lainnya, seorang anggota TNI bernama Asep Herman dan anak berusia enam tahun, Yoakim Majau, ikut menjadi korban luka. Tak berhenti di situ, tiga hari kemudian, Enos diduga kuat membakar kios dan sebuah ambulans di Bandara Bilorai aksi teror yang menandai kebengisannya.
Ironisnya, Enos sempat ditangkap Satgas ODC pada 5 Februari 2022 dan dijatuhi hukuman penjara tiga tahun. Namun, dalam drama pelarian yang mencoreng wajah penegakan hukum, ia berhasil meloloskan diri dari tahanan pada 17 Februari 2023. Sejak saat itu, ia menjadi buronan utama dan simbol kebangkitan kembali sel-sel kekerasan di Intan Jaya.
Kini, cerita itu berakhir di tengah kabut pagi Papua dengan senyap dan letupan senjata. Negara kembali menunjukkan bahwa tak ada tempat bagi teror dan pembangkangan bersenjata. (*/tim)













