EKSPOSTIMES.COM- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel akan menguasai seluruh wilayah Jalur Gaza dalam operasi militer yang masih berlangsung. Pernyataan ini disampaikan Netanyahu dalam sebuah video yang dikutip oleh BBC, di tengah meningkatnya tekanan internasional terkait situasi kemanusiaan di Gaza.
“Kami terlibat dalam pertempuran besar-besaran, intens, substansial dan ada kemajuan. Kami akan menguasai semua wilayah di Jalur Gaza, itulah yang akan kami lakukan,” ujar Netanyahu, menegaskan sikap tegas Israel dalam operasi daratnya.
Baca Juga: Krisis Gaza, 65.000 Anak Nyaris Tewas Kelaparan, Blokade Israel Dinilai sebagai Strategi Pemusnahan
Pernyataan ini datang ketika konflik memasuki fase paling kritis, dengan korban sipil yang terus meningkat serta krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat blokade bantuan di wilayah Gaza. Netanyahu membela keputusan pemerintahnya menghentikan sebagian besar bantuan kemanusiaan, menyebut adanya penyalahgunaan bantuan oleh kelompok Hamas.
“Sejak awal perang, kami memahami bahwa kami perlu mencegah kelaparan—baik dari sudut pandang praktis maupun diplomatik,” jelasnya. “Sederhananya, pihak lain tidak akan mendukung kami; kami tidak akan dapat menyelesaikan misi kemenangan.”
Menurut Netanyahu, keputusan Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan di tengah perang merupakan bagian dari strategi diplomasi agar tetap mendapat dukungan internasional. Namun, ia menuding bahwa bantuan tersebut telah disalahgunakan oleh Hamas.
“Kami menemukan bahwa Hamas menjarah sebagian bantuan ini. Jadi kami menghentikan bantuan kemanusiaan,” katanya, tanpa merinci bukti konkret yang mendukung tuduhan tersebut.
Langkah penghentian bantuan ini menuai kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan dan negara-negara donor, yang menilai bahwa memblokade bantuan dapat memperburuk penderitaan warga sipil Gaza yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata. PBB dan sejumlah lembaga kemanusiaan sebelumnya menyebut bahwa Gaza saat ini menghadapi risiko kelaparan massal akibat blokade dan hancurnya sistem distribusi logistik.
Meskipun demikian, Netanyahu tetap pada posisinya bahwa penguasaan total Gaza diperlukan demi menjamin keamanan jangka panjang Israel. Ia menegaskan bahwa operasi militer tidak akan berhenti sampai Hamas “dilenyapkan sepenuhnya”.
Sementara itu, situasi di lapangan menunjukkan pertempuran semakin meluas, termasuk ke wilayah Rafah di selatan Gaza, yang sebelumnya dianggap sebagai zona aman bagi warga sipil. Puluhan ribu warga sipil dilaporkan mengungsi dari Rafah dalam beberapa hari terakhir, menyusul operasi militer Israel di kawasan tersebut.
Baca Juga: Krisis Gaza, 65.000 Anak Nyaris Tewas Kelaparan, Blokade Israel Dinilai sebagai Strategi Pemusnahan
Masyarakat internasional kini berada pada titik genting dalam merespons situasi Gaza. Beberapa negara menyerukan gencatan senjata segera dan peningkatan akses kemanusiaan, sementara Israel tetap bersikukuh pada strategi militer jangka panjang.
Dengan dinamika yang terus berkembang dan meningkatnya tekanan global, konflik ini tampaknya akan terus menyita perhatian dunia, baik dari sisi geopolitik, kemanusiaan, maupun masa depan keamanan regional di Timur Tengah. (*/tim)












