EKSPOSTIMES.COM- Situasi di Gaza kembali memanas setelah serangan udara Israel di Khan Younis, Minggu (23/3), menewaskan pemimpin senior Hamas, Salah al-Bardaweel. Serangan ini memperburuk eskalasi konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Media pro-Hamas melaporkan bahwa serangan Israel ini tidak hanya menewaskan Bardaweel, tetapi juga istrinya. Hamas menuduh Israel melakukan pembunuhan terencana, menyatakan bahwa pemimpin mereka tewas saat tengah melaksanakan shalat ketika rudal menghantam tenda tempat tinggal mereka.
“Darahnya, darah istrinya, dan para syuhada lainnya akan terus menyulut pertempuran, pembebasan, dan kemerdekaan. Musuh kriminal tidak akan mematahkan tekad dan kemauan kami,” bunyi pernyataan resmi Hamas.
Baca Juga: Perang Gaza Kembali Meletus! Israel Gempur Hamas, Ratusan Warga Tewas
Pihak Israel belum memberikan komentar terkait serangan ini, tetapi sumber militer menyebut bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas untuk melemahkan Hamas.
Serangan di Khan Younis hanyalah bagian dari operasi militer yang lebih luas. Setelah dua bulan relatif tenang, pasukan Israel kembali menggempur berbagai wilayah di Jalur Gaza sejak Selasa (19/3). Ledakan terdengar di Gaza utara, tengah, dan selatan, sementara jet tempur Israel menghantam sejumlah target strategis Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa serangan ini bertujuan untuk menghancurkan Hamas sebagai entitas militer dan politik. Ia juga menyatakan bahwa tekanan militer akan terus berlanjut sampai Hamas melepaskan sandera yang masih mereka tahan.
Baca Juga: Kesepakatan Gencatan Senjata dan Pertukaran Tawanan Gaza Mencapai Titik Terang
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa sedikitnya 400 orang tewas dalam serangan terbaru, dengan lebih dari separuhnya merupakan perempuan dan anak-anak.
Meningkatnya serangan Israel di Gaza telah memicu seruan gencatan senjata dari berbagai negara. Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Israel untuk segera membuka akses bantuan kemanusiaan.
Di sisi lain, Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dan menolak perundingan damai. Namun, kelompok tersebut menyatakan masih mempelajari proposal gencatan senjata yang diajukan oleh mediator internasional.
Baca Juga: Pemerintah RI Tegaskan Tidak Ada Informasi Terkait Relokasi Warga Gaza ke Indonesia
Sementara Israel tetap mempertahankan blokade terhadap Gaza, tuduhan bahwa Hamas menyalahgunakan bantuan kemanusiaan kembali mencuat. Hamas membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai dalih untuk memperketat pengepungan terhadap warga sipil.
Kondisi di Gaza semakin genting, dengan ribuan warga sipil mengungsi dan rumah sakit kewalahan menangani korban luka. Di tengah ketegangan yang terus meningkat, dunia kini menanti apakah ada jalan keluar dari konflik yang kian berkepanjangan ini. (riz)













