EKSPOSTIMES.COM- Suasana suka cita syukuran pernikahan di Pendopo Garut berubah duka. Pesta rakyat bertajuk makan gratis dalam rangka pernikahan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, dengan Maula Akbar Mulyadi Putra, anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, memicu insiden desak-desakan yang menelan korban jiwa, termasuk seorang anggota Polri.
Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Setiawan turun langsung ke Alun-alun Lapang Oto Iskandar Dinata, Garut, untuk mengecek situasi di lokasi, Sabtu (19/7/2025).
Baca Juga: Korps Raport Penuh Haru! Tiga Jenderal Baru dan 87 Kombes Resmi Naik Pangkat di Mabes Polri
Dalam keterangannya, Rudi menyampaikan bela sungkawa mendalam dan memastikan bahwa seluruh penanganan korban dilakukan secara layak dan sesuai prosedur.
“Kami turut berduka cita yang mendalam atas musibah ini. Pengecekan ini untuk memastikan bahwa penghormatan terakhir kepada anggota kami yang gugur dalam tugas dilakukan secara layak,” ujar Rudi.
Korban dari jajaran kepolisian, Bripka Cecep Saeful Bahri, dinyatakan gugur dalam tugas saat mengamankan kegiatan. Rudi menegaskan bahwa seluruh hak Bripka Cecep sebagai anggota Polri akan diberikan penuh dengan penghormatan.
Insiden bermula saat ribuan warga memadati lokasi acara untuk mengikuti sesi pembagian makanan gratis, yang disebut sebagai puncak pesta rakyat. Desakan warga dalam antrean memicu kepanikan dan kericuhan, menyebabkan beberapa orang terinjak, dan satu di antaranya meninggal dunia.
“Kami sedang menginventarisasi kronologi kejadian secara rinci, termasuk mekanisme antrean yang memicu desakan,” jelas Kapolda.
Rudi juga melakukan dialog langsung dengan jajaran Polres Garut, panitia penyelenggara, dan keluarga korban, sebagai bagian dari proses evaluasi. Ia menekankan bahwa kejadian ini harus menjadi alarm keras bagi pengelolaan pengamanan acara berskala besar.
“Saya telah perintahkan jajaran untuk mengusut tuntas kemungkinan kelalaian atau faktor teknis yang menyebabkan kejadian ini,” tegasnya.
Proses pendataan korban dan pendampingan keluarga masih berlangsung. Kapolda menyatakan bahwa kehadirannya adalah wujud tanggung jawab negara dan transparansi Polri dalam menangani insiden yang menyangkut keselamatan masyarakat.
Kegiatan yang semula diniatkan sebagai bentuk syukur dan kebersamaan, kini menyisakan luka mendalam.
Tragedi ini membuka pertanyaan besar tentang standar keamanan acara publik, dan menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan, keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. (Kom/tim)








