EKSPOSTIMES.COM- Dalam sunyi yang nyaris tak terdengar, pertarungan besar tengah berlangsung di balik kebijakan pangan nasional. Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, tengah memacu gas menuju swasembada pangan, sebuah mimpi lama yang kini mulai mendekati kenyataan. Tapi di balik itu, ada pihak-pihak yang diam-diam berharap Indonesia tetap bergantung.
Tak main-main, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut langsung siapa yang dirugikan bila Indonesia berhasil swasembada. Bukan sembarang pihak, tapi mereka yang telah lama menjadikan impor sebagai lahan empuk keuntungan.
Baca Juga: 212 Merek Beras Diduga Nakal, Satgas Pangan Bergerak, Tabir Kecurangan Mulai Terkuak
“Ada pihak yang tidak senang jika kita swasembada pangan, yakni importir. Mereka sudah bangun gudang, punya kapal, pegawai, dan jaringan langganan. Jika kita swasembada, keuntungan mereka bisa hilang,” kata Amran dalam pernyataan kerasnya, dikutip Minggu (13/7/2025).
Menurut Amran, para importir bahkan rela bermain curang demi mempertahankan bisnisnya. Tak hanya itu, negara-negara luar pun disebut resah bila Indonesia benar-benar mandiri pangan.
“Tidak ada satu pun negara luar yang ingin Indonesia swasembada, terutama beras. Jika kita berhasil, harga pangan dunia bisa turun tajam karena kita tak lagi impor hingga 7 juta ton,” ujarnya tegas.
Di tengah gempuran kepentingan dan tekanan global, Amran menyanjung para petani, penyuluh, hingga kepala dinas pertanian yang dianggap sebagai garda terdepan dalam pertarungan ini.
“Kalian pahlawan pangan kita. Berkat kalian, harga pangan global bisa ditekan. Presiden pun mengapresiasi kerja keras kalian,” ucapnya penuh haru.
Langkah-langkah besar memang tengah dilakukan pemerintah: dari pengembangan food estate, modernisasi agribisnis, hingga perbaikan infrastruktur irigasi dan distribusi pangan. Semua demi satu tujuan, Indonesia berdaulat atas makanannya sendiri.
Presiden Prabowo sendiri tak tinggal diam. Ia menyampaikan bahwa ketahanan pangan nasional berada di titik tertinggi sepanjang sejarah.
“Cadangan beras dan jagung pemerintah adalah yang tertinggi sepanjang sejarah kita,” ungkap Presiden, dengan nada optimistis.
Tak hanya soal stok, produksi pangan Indonesia sepanjang semester I-2025 melonjak hingga 40–50%, angka yang belum pernah tercatat sebelumnya.
“Saya yakin Indonesia tak hanya swasembada pangan, tapi juga bisa jadi lumbung pangan dunia,” tegas Prabowo.
Meski cahaya kemenangan mulai tampak, jalan menuju swasembada masih panjang dan penuh rintangan. Kepentingan ekonomi, tekanan asing, dan mafia pangan dalam negeri menjadi lawan-lawan tak kasatmata yang harus dihadapi.
Namun satu hal pasti, bila bangsa ini mampu memberi makan dirinya sendiri, maka kedaulatan sejati akan terwujud tak hanya di atas tanah, tapi juga di atas meja makan seluruh rakyatnya. (Lian/Riz)













