EKSPOSTIMES.COM- Pemerintah Indonesia menegaskan kesiapan menghadapi tekanan ekonomi global yang diprediksi semakin besar pada tahun ini. Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam melindungi daya beli masyarakat.
“Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari dampak El Niño, ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga The Fed, hingga perlambatan ekonomi di China,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN 2024 di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Minggu (2/2/2025).
Ia menambahkan bahwa berbagai krisis politik dan konflik yang terus berlanjut hingga akhir 2024 turut memperburuk ketidakpastian ekonomi global. Meski begitu, pemerintah berkomitmen untuk menerapkan berbagai langkah strategis demi menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
“Kami menyadari tantangan ini luar biasa, tetapi pemerintah akan terus berupaya melindungi masyarakat serta memastikan daya beli tetap terjaga,” tegasnya.
Di tengah berbagai tantangan, Sri Mulyani melihat adanya secercah harapan dari Asia, khususnya China, yang mulai bangkit dengan kebijakan stimulus fiskal dan moneter guna mengatasi perlambatan ekonominya. Sebagai mitra dagang utama Indonesia, pemulihan ekonomi China diharapkan dapat memberi dampak positif bagi perdagangan dan investasi dalam negeri.
Namun, di sisi lain, Amerika Serikat menghadapi gejolak baru setelah kemenangan kembali Donald Trump dalam Pilpres 2024. Kebijakan ekonomi Trump yang dikenal proteksionis dinilai berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan global.
“Ini adalah periode kedua pemerintahan Trump, dan kita tahu bahwa kebijakan-kebijakan sebelumnya berdampak besar pada ekonomi global. Tarif perdagangan dan kebijakan nasionalistiknya bisa memberikan efek signifikan terhadap pasar keuangan dan perdagangan dunia,” jelas Sri Mulyani.
Sementara itu, di Eropa, ketidakpastian masih membayangi tiga negara besar Prancis, Jerman, dan Inggris. Ketiga negara ini menghadapi krisis akibat kebuntuan anggaran negara (APBN) yang belum menemukan titik temu dengan parlemen masing-masing.
“Kondisi di Eropa juga belum membaik. Prancis dan Jerman tengah menghadapi krisis, sementara Inggris mengalami pergantian kekuasaan akibat persoalan anggaran dan ekonomi yang melemah,” tutup Sri Mulyani. (*/rizky)













