EKSPOSTIMES.COM- Pemangkasan anggaran pemerintah berpotensi mengguncang industri media nasional. Berkurangnya belanja iklan dari sektor publik semakin memperparah kondisi keuangan perusahaan pers yang sudah menghadapi gempuran platform digital, disrupsi teknologi, hingga tantangan kecerdasan buatan (AI).
Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, menyoroti tekanan besar yang melanda dunia jurnalistik. Sepanjang 2023-2024, lebih dari 1.200 jurnalis dan pekerja media kehilangan pekerjaan, sementara beberapa media cetak besar terpaksa gulung tikar akibat krisis finansial.
“Media konvensional tak lagi menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengakses berita. Sekitar 75 persen belanja iklan nasional kini mengalir ke platform digital global dan media sosial,” ujarnya, dikutip dari laman Universitas Gajah Mada (UGM), Selasa (25/2/2025).
Tak hanya itu, media lokal yang selama ini mengandalkan pendapatan dari iklan pemerintah daerah kini berada dalam kondisi genting. Pengamat jurnalisme dan media dari Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Dr. Wisnu Martha Adiputra, menilai bahwa ketergantungan terhadap iklan pemerintah berisiko menggerus independensi jurnalistik.
“Ketika media terlalu bergantung pada dana iklan pemerintah, mereka cenderung lebih berhati-hati dalam mengkritik kebijakan pemerintah daerah,” ungkapnya.
Di sisi lain, Wisnu menilai kondisi ini bisa menjadi momentum bagi industri media untuk bertransformasi dan mencari model bisnis yang lebih mandiri.
“Media swasta yang tidak menggantungkan diri pada anggaran pemerintah cenderung lebih stabil. Sementara itu, media seperti LPP (Lembaga Penyiaran Publik) yang didanai negara lebih rentan terkena dampak efisiensi anggaran, seperti yang terlihat dari PHK jurnalis di TVRI dan RRI dua minggu lalu,” jelasnya.
Regulasi terbaru pun menjadi sorotan. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 32 Tahun 2024 tentang publisher rights diharapkan dapat mendorong platform digital global untuk berkontribusi lebih besar terhadap ekosistem pers nasional.
“Skema ini bisa menjadi solusi agar platform digital tak hanya mengeruk keuntungan dari konten berita yang dibagikan di media sosial, tapi juga berperan dalam mendukung media lokal,” tambah Wisnu.
Di tengah tantangan besar ini, industri media dituntut untuk beradaptasi, mencari strategi baru, dan berinovasi agar tetap relevan di era digital. Pemangkasan anggaran bisa menjadi ancaman sekaligus peluang bagi dunia pers Indonesia untuk membangun model bisnis yang lebih berkelanjutan. (*/tim)













