Peristiwa

Iran Membara, Negara Dibungkam: Ribuan Tewas, Internet Dipadamkan, Ancaman Perang Menggantung

×

Iran Membara, Negara Dibungkam: Ribuan Tewas, Internet Dipadamkan, Ancaman Perang Menggantung

Sebarkan artikel ini
Aksi keras pemerintah Iran terhadap warganya memicu kejatuhan ekonomi, anjloknya mata uang Rial, pemadaman internet total, dan korban berjatuhan sejak gelombang protes besar akhir Desember 2025.

EKSPOSTIMES.COM- Iran kini berada di titik nadir krisis nasional. Aksi keras pemerintah terhadap warganya sendiri telah melumpuhkan negara, mematikan ruang publik, dan meninggalkan jejak darah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mata uang Rial anjlok tanpa kendali, internet dipadamkan hampir total, sementara ribuan warga dilaporkan tewas dalam gelombang represi brutal yang menyusul protes besar-besaran sejak 28 Desember 2025.

Menurut laporan Reuters, protes meletus akibat inflasi yang meroket dan ekonomi yang nyaris kolaps. Namun respons pemerintah jauh melampaui upaya penegakan hukum. Pasukan keamanan, termasuk milisi Basij, dilaporkan dikerahkan secara masif untuk “menghabisi” perlawanan warga. Hasilnya, Iran kini tampak sunyi, bukan karena damai, melainkan karena ketakutan.

Kelompok hak asasi manusia dan warga setempat menggambarkan situasi pasca-kerusuhan sebagai “sunyi senyap”. Media pemerintah justru melaporkan gelombang penangkapan baru, sementara Amerika Serikat berulang kali mengancam akan campur tangan jika pembunuhan terus berlanjut. Presiden AS Donald Trump mengklaim menerima laporan bahwa kekerasan mulai mereda, sehingga prospek serangan militer sementara surut. Namun, pergerakan aset militer AS ke sekitar Iran justru meningkat, menandakan ketegangan belum usai.

Sekutu AS seperti Arab Saudi dan Qatar disebut melakukan diplomasi intensif dengan Washington untuk mencegah serangan. Mereka memperingatkan, perang dengan Iran akan mengguncang Timur Tengah dan berbalik merugikan Amerika sendiri. Di saat bersamaan, Kepala Intelijen Israel David Barnea dilaporkan berada di AS, sementara militer Israel mengumumkan status “kesiapan puncak”.

Gedung Putih menegaskan Teheran telah diperingatkan tentang konsekuensi serius jika pertumpahan darah berlanjut. Semua opsi, termasuk militer, disebut masih di atas meja.

Saat pemadaman internet mulai longgar, laporan-laporan mengerikan pun bermunculan. Seorang ibu di Teheran mengungkap kepada Reuters bahwa putrinya yang berusia 15 tahun tewas ditembak setelah ikut demonstrasi. “Dia bukan teroris, bukan perusuh. Dia hanya ingin pulang,” ujarnya, sambil menyebut pasukan Basij sebagai pelaku.

Kelompok HAM Iran-Kurdi Hengaw melaporkan tidak ada demonstrasi besar sejak akhir pekan lalu, tetapi kehadiran militer dan keamanan masih sangat masif. Drone terus berpatroli di langit Teheran, meski jalanan tampak tenang. Di beberapa wilayah, kerusuhan sporadis masih terjadi. Seorang perawat perempuan dilaporkan tewas ditembak di Karaj, sementara kantor pendidikan dibakar di Isfahan.

Jumlah korban tewas yang dilaporkan HRANA kini mencapai 2.677 orang, mayoritas demonstran. Lebih dari 19.000 warga dilaporkan ditangkap. Angka ini jauh melampaui kerusuhan-kerusuhan sebelumnya dalam sejarah Iran modern.

Pemerintah Iran menuding “musuh asing” sebagai dalang protes. Namun bagi dunia internasional, satu pertanyaan besar menggantung, sampai kapan sebuah negara bisa bertahan dengan membungkam rakyatnya sendiri melalui darah dan ketakutan? (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *