EKSPOSTIMES.COM Sering kali, ketika kita mengalami keterpurukan, hati kita bertanya, “Di manakah Tuhan?” Kita merasa sendiri, ditinggalkan, bahkan diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Tapi kisah Yusuf dalam Kejadian 39 memberikan jawaban yang kuat dan penuh harapan: Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidup dalam kebenaran, bahkan di tengah penderitaan yang paling dalam sekalipun.
Yusuf tidak sedang berada dalam situasi yang nyaman ketika ayat ini ditulis. Ia baru saja dijual oleh saudara-saudaranya sendiri—orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan keluarganya. Ia menjadi budak di negeri asing, tanpa hak, tanpa keluarga, dan tanpa masa depan yang pasti. Namun justru dalam kondisi seperti itulah kita membaca pernyataan luar biasa: “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya.” (ayat 2)
Baca Juga: Renungan: Makna Sejati Paskah.Perjanjian Baru antara Allah dan Manusia, I Korintus 15:3
Penyertaan Tuhan tidak selalu berarti hidup bebas dari masalah. Dalam kasus Yusuf, penyertaan Tuhan tidak langsung mengeluarkannya dari Mesir atau mengembalikannya kepada keluarganya. Tetapi Tuhan menyertainya dengan memberi hikmat, kesetiaan, dan integritas, sehingga dalam keadaan apapun Yusuf tetap memancarkan terang kasih Allah. Dalam statusnya sebagai budak, Yusuf menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Dan itu dilihat oleh Potifar, tuannya.
Perhatikan bahwa keberhasilan Yusuf bukan semata-mata karena keterampilannya, tetapi karena Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya. Ini adalah pesan yang sangat penting. Dunia mungkin melihat hasil, tetapi Tuhan melihat hati. Dan ketika hati seseorang berpaut kepada-Nya, maka tangan Tuhan akan membuat setiap pekerjaan kecil menjadi bermakna dan berdampak besar.
Baca Juga: Renungan: Jalan Tuhan yang Tak Terselami Tapi Sempurna, Kejadian 37:12-36
Apa yang dilakukan Yusuf dalam penderitaan bisa menjadi teladan bagi kita. Ia tidak meratap. Ia tidak membiarkan dirinya hancur oleh kepahitan. Ia memilih untuk tetap setia—setia kepada Tuhan, dan setia kepada tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Ia bekerja sebaik mungkin, bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi karena ia sadar bahwa Tuhan menyertainya dan melihat setiap hal kecil yang ia lakukan.
Keteladanan Yusuf juga mengajarkan kepada kita tentang kasih karunia Tuhan yang bekerja di balik layar. Meskipun tampaknya Yusuf diperlakukan tidak adil, tangan Tuhan justru sedang membentuk dan mempersiapkannya untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Ia sedang digembleng di rumah Potifar, agar suatu hari nanti ia mampu mengelola seluruh tanah Mesir.
Kita sering ingin melihat mukjizat yang besar dan dramatis. Tapi kisah Yusuf mengajarkan bahwa mukjizat terbesar kadang justru adalah kemampuan untuk tetap setia, tetap bekerja dengan baik, dan tetap berharap di tengah penderitaan. Tuhan menyertai kita bukan hanya ketika kita berada di atas, tetapi justru ketika kita sedang berada di titik terendah sekalipun.
Baca Juga: Renungan: DIINGAT OLEH YESUS, Lukas 23:32-34, 39-43
Mari renungkan hari ini: Apakah kita sedang berada di “Mesir” kehidupan kita? Apakah kita merasa dijatuhkan, dilupakan, atau sedang berada di tempat yang kita tidak inginkan? Belajarlah dari Yusuf. Jangan fokus pada keadaan, tetapi fokuslah pada penyertaan Tuhan. Karena ketika Tuhan menyertai, segala yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia.
(red)













