EKSPOSTIMES.COM- Ada sesuatu yang indah dan menghangatkan hati ketika kita tahu bahwa kita diingat. Diingat berarti dihargai, diperhatikan, dianggap penting. Namun dalam hidup, sering kali kita justru merasa sebaliknya—terlupakan.
Kita bisa merasa seperti bunga kecil di antara ribuan lainnya, tak terlihat dan tak diperhitungkan. Tidak heran jika ada kisah lama dari Jerman tentang bunga kecil yang takut dilupakan dan berseru, “Tuhan, jangan lupakan aku.” Maka bunga itu pun diberi nama forget-me-not.
Meski kisah itu hanya dongeng, pesan yang dikandungnya sangat dalam. Setiap hati manusia rindu untuk dikenang, untuk diingat, dan yang terutama, untuk tidak dilupakan oleh Penciptanya.
Baca Juga: Renungan: Rencana Allah dalam Kesulitan Hidup, Kejadian 37:1-11
Dalam kehidupan yang keras dan dunia yang penuh tuntutan, kita bisa merasa seperti satu dari jutaan orang yang tak berarti. Namun kisah di salib bersama Yesus menunjukkan hal yang sangat berbeda.
Dua penjahat disalib bersama Yesus. Keduanya sama-sama menderita, sama-sama berbuat salah, dan sama-sama berada di ambang kematian.
Namun yang satu mencemooh, sementara yang lain melihat sesuatu yang lebih dalam—ia melihat pengharapan di dalam diri Yesus.
Dengan rendah hati dan iman yang tulus, ia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Permintaan itu sederhana, tapi lahir dari hati yang hancur dan percaya.
Baca Juga: Renungan: Kembali ke Betel: Jalan Pulang dalam Pertobatan, Kejadian 35:2-5
Respons Yesus tidak mengecewakan: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Tak ada kata terlambat untuk diingat oleh Tuhan. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, ketika semua tampak gelap dan tanpa harapan, penjahat itu menerima janji yang kekal—karena ia mengakui Yesus sebagai Raja.
Renungan ini mengingatkan kita bahwa Yesus tidak pernah melupakan siapa pun. Ia melihat setiap hati yang berseru kepada-Nya. Ia mendengar doa-doa yang mungkin tidak terdengar oleh manusia lain.
Baca Juga: Renungan: Kemarahan yang Tidak Terkendalikan Menjadi Jalan Menuju Kehancuran, Kejadian 34:1-31
Bahkan ketika dunia menolak dan melupakan, Yesus tidak. Dia mengenal kita lebih dari siapa pun. Ia tahu luka-luka kita, kesalahan kita, bahkan semua yang kita sesali. Dan tetap saja, Dia mengingat kita dengan kasih yang tidak berubah.
Mungkin hari ini kamu merasa seperti penjahat di salib—penuh rasa bersalah, kehilangan arah, merasa tidak layak. Mungkin kamu bertanya dalam hati, “Masih ingatkah Tuhan padaku?”
Renungan ini menegaskan bahwa jawaban-Nya adalah ya. Seribu kali ya. Ia mengingatmu. Ia mengingat air matamu, jerih payahmu, dan hatimu yang rindu pulang kepada-Nya.
Baca Juga: Renungan: Ketika Dendam Luruh oleh Kasih, Kejadian 33:1–20
Seruan sederhana “Ingatlah akan aku” bisa menjadi doa kita setiap hari. Kita tidak perlu berdoa panjang-panjang untuk didengar oleh Tuhan. Sebuah seruan dari hati yang tulus sudah cukup untuk menggerakkan hati-Nya. Dan respons-Nya tidak akan pernah mengecewakan.
Yesus tidak hanya mengingat kita—Ia menyelamatkan kita. Ia bukan Raja yang duduk jauh di takhta tanpa peduli. Ia adalah Raja yang memikul salib, menanggung dosa, dan mengulurkan tangan-Nya bahkan di saat-saat terakhir hidup seseorang. Karena bagi-Nya, tidak ada satu pun anak yang terlupakan.
Hari ini, kita boleh hidup dalam kepastian bahwa kita diingat. Bahkan saat dunia melupakan, Yesus tetap memanggil nama kita. Dan dalam pengharapan itu, kita bisa melangkah dengan damai. (*/Riz)










