EKSPOSTIMES.COM- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya menjadi upaya menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi generasi muda, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru yang membuka ribuan lapangan kerja di seluruh Indonesia.
Hal ini ditegaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, yang menyebut bahwa program MBG berpotensi menciptakan new emerging market lewat pendirian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah.
“Secara ekonomi, MBG menciptakan lapangan kerja langsung di setiap SPPG. Ini adalah bentuk konkret dari investasi negara dalam pembangunan manusia sekaligus kemandirian masyarakat,” ujar Dadan melalui pernyataan tertulis, Rabu (9/4).
Baca Juga: Gaji Tertunggak 3 Bulan, Kepala BGN Janji Bayar Sebelum Lebaran, 1.542 Dapur MBG Segera Dibangun
Dadan menjelaskan bahwa setiap SPPG ditargetkan melayani 3.000 hingga 4.000 penerima manfaat. Jumlah ini bukan tanpa alasan, semakin besar skala layanan, semakin besar pula kebutuhan tenaga kerja, logistik, hingga distribusi bahan pangan.
“Dengan skala seperti ini, akan tercipta permintaan yang terus tumbuh dan membuka pasar baru secara organik di wilayah masing-masing,” tambahnya.
Untuk menjalankan operasionalnya, tiap SPPG diperkuat oleh tiga tenaga kerja inti: kepala unit, ahli gizi, dan akuntan, yang seluruhnya merupakan pegawai BGN dan digaji melalui APBN. Sementara para tenaga masak, relawan logistik, dan pendukung lainnya dibayar menggunakan dana operasional mitra.
Tak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, program MBG juga menggairahkan ekonomi lokal melalui rantai pasok bahan baku. Dadan menyebut tiap SPPG minimal melibatkan 15 penyalur baru, dan masing-masing penyalur bisa mempekerjakan 2 hingga 5 orang.
“Itu artinya ada ribuan lapangan kerja tak langsung yang tumbuh bersama MBG, terutama di sektor pangan dan distribusi lokal,” ucapnya.
Pemerintah juga membuka peluang bagi yayasan, koperasi, hingga pelaku usaha lokal untuk ikut serta menjadi mitra penyelenggara SPPG melalui situs resmi mitra.bgn.go.id. Dengan menjadi mitra, pelaku usaha berpeluang mendapat penghasilan tetap sekaligus berkontribusi pada agenda nasional peningkatan gizi anak bangsa.
Dadan menekankan, MBG merupakan bentuk nyata dari investasi besar negara dalam kualitas sumber daya manusia (SDM). Targetnya adalah intervensi gizi pada dua fase pertumbuhan penting: 1.000 hari pertama kehidupan (0-2 tahun) dan masa pertumbuhan anak usia 8–18 tahun.
“Pertumbuhan penduduk kita sangat cepat, 3 juta orang per tahun. Mayoritas lahir dari keluarga rentan ekonomi dan pendidikan terbatas. Ini yang membuat Presiden sangat resah. MBG hadir untuk memastikan mereka tetap punya masa depan,” tegas Dadan.
Dengan estimasi penduduk mencapai 324 juta jiwa pada tahun 2045, Dadan menyebut program MBG akan menjadi fondasi penting dalam menyongsong Indonesia Emas, terutama dalam mencetak generasi sehat, kuat, dan berdaya saing global.
“Anak-anak kita harus tumbuh seimbang, fisik, gizi, dan pendidikannya. MBG adalah jalan menuju ke sana,” pungkasnya. (riz)













