EKSPOSTIME.COM- Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurrofiq, menegaskan peran strategis intelektual pascasarjana dalam menghadapi tantangan global atau polycrisis sekaligus mengawal terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan Mahasiswa Baru Pascasarjana Universitas Brawijaya Tahun Ajaran 2025/2026, Senin (18/8/2025).
“Dunia saat ini menghadapi polycrisis, tumpang tindih krisis iklim, energi, pangan, kesehatan, hingga geopolitik yang saling memperkuat dampaknya. Indonesia tidak kebal dari situasi ini. Justru di tengah tantangan inilah, perguruan tinggi dan mahasiswa pascasarjana harus tampil sebagai motor perubahan,” ujar Hanif di hadapan 2.255 mahasiswa baru.
Hanif menjelaskan, polycrisis adalah kondisi ketika krisis-krisis besar terjadi bersamaan dan memperburuk satu sama lain. Misalnya, perubahan iklim yang memicu krisis pangan hingga konflik perebutan sumber daya. Untuk itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, riset inovatif, serta kepemimpinan visioner dalam membangun resiliensi bangsa.
Ia mengingatkan laporan UNEP 2024 Navigating New Horizons yang menyebut dunia tertinggal jauh dari pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Menurutnya, Indonesia telah menargetkan agenda strategis seperti FOLU Net Sink 2030, transisi energi berkeadilan, dan penguatan ekonomi sirkular yang membutuhkan kontribusi nyata dari perguruan tinggi.
“Mahasiswa pascasarjana harus menjadi intelektual yang bukan hanya akademis, tetapi juga mampu menavigasi kompleksitas zaman,” tegasnya.
Selain itu, Hanif menekankan transformasi menuju Industri 5.0 yang berpusat pada manusia, keberlanjutan, dan resiliensi. Ia menilai perguruan tinggi harus menjadi pusat pengetahuan sekaligus etika publik agar perkembangan teknologi benar-benar menjadi solusi bagi kesejahteraan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Widodo, menyoroti pentingnya peningkatan jumlah lulusan pascasarjana di Indonesia. Saat ini, jumlah warga bergelar pascasarjana baru sekitar 0,45 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara maju yang mencapai 9-10 persen.
“Pendidikan pascasarjana harus diperkuat, karena ilmu pengetahuan dan riset saintifik sangat vital untuk menghadapi tantangan global dan mendorong Indonesia menjadi bangsa unggul,” kata Widodo.
Acara orientasi bertema “Membangun Intelektual Pascasarjana yang Profesional, Berintegritas, dan Visioner Menuju Indonesia Emas 2045” ini menegaskan komitmen Universitas Brawijaya melahirkan lulusan tangguh, inovatif, serta berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional. (lian)









