EKSPOSTIMES.COM- Bacaan Firman Tuhan kita kali ini adalah bagian dari perintah Tuhan kepada bangsa Israel sesudah mereka keluar dari Mesir. Tuhan menetapkan peringatan Paskah dan penebusan anak sulung sebagai pengingat bahwa mereka tidak dibebaskan oleh kekuatan mereka sendiri, tetapi oleh tangan Tuhan yang penuh kuasa.
Namun, perintah ini bukan sekadar ritus keagamaan. Ini juga menjadi momen pengajaran yang sangat penting—sebuah pengingat akan pentingnya mewariskan iman melalui cerita dan kesaksian.
Tuhan tahu bahwa waktu akan berjalan dan generasi baru akan lahir—generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa pembebasan dari Mesir. Mereka tidak melihat air laut yang terbelah, tiang awan dan tiang api, atau tulah yang menimpa Mesir. Mereka hanya mendengar cerita.
Baca Juga: Kemerdekaan Sejati Dimulai dari Karya Allah (Keluaran 12:1-28)
Oleh karena itu, Tuhan memerintahkan agar setiap kali anak bertanya, orang tua menjawab dengan kesaksian tentang karya Tuhan. Bukan dengan dogma kosong, tetapi dengan narasi hidup yang mengandung pengalaman nyata akan penyertaan dan kuasa Allah.
Ayat ini menggarisbawahi pentingnya peran generasi tua dalam mendidik generasi muda. Iman tidak boleh berhenti pada satu generasi. Pengalaman rohani harus diteruskan. Mengapa? Karena iman yang tidak diwariskan akan mudah pudar dan hilang.
Ketika anak bertanya, “Apa artinya ini?”—entah itu tentang ibadah, kebiasaan keluarga, atau keputusan hidup yang berdasar pada iman—mereka sejatinya sedang membuka pintu untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Dan ketika kita menjawab dengan kesaksian hidup tentang bagaimana Tuhan telah bekerja dalam hidup kita, kita sedang membangun jembatan iman yang kuat untuk mereka lalui.
Baca Juga: Tuhan Bisa Pakai Musuhmu untuk Mendukungmu (Keluaran 11:3)
Sayangnya, di zaman modern ini, banyak orang tua dan pemimpin rohani tidak lagi menceritakan karya Tuhan secara utuh. Mereka mungkin takut dianggap kuno, terlalu religius, atau tidak relevan.
Tapi jika kita tidak menceritakan bagaimana Tuhan bekerja dalam sejarah dan dalam kehidupan pribadi kita, maka generasi setelah kita akan kehilangan konteks tentang siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia lakukan. Mereka hanya akan mengenal agama sebagai sistem, bukan sebagai relasi.
Keluaran 13:14 mengingatkan bahwa setiap perbuatan Tuhan dalam hidup kita bukan hanya untuk kita nikmati sendiri, tetapi juga untuk diceritakan. Bahkan lebih dari itu, perintah ini menyiratkan bahwa menceritakan karya Tuhan adalah bagian dari ibadah. Itu adalah cara kita mengakui bahwa hidup ini bukan hasil usaha kita sendiri, melainkan anugerah dari Allah yang memimpin dan menolong dengan tangan-Nya yang kuat.
Baca Juga: Ketika Firaun Mengaku Berdosa: Tulus atau Terpaksa? (Keluaran 10:16)
Renungan ini menjadi sangat relevan ketika kita menyadari bahwa setiap keluarga, setiap komunitas, dan setiap bangsa memiliki “Mesir”-nya sendiri—masa lalu yang penuh penderitaan, dosa, atau penindasan. Dan jika kita telah dibebaskan dari situ, maka itu adalah karya Tuhan yang patut diceritakan. Bukan untuk membanggakan diri, tapi untuk memuliakan Dia yang telah menyelamatkan.
Jadi, ketika anak-anak kita, atau orang-orang di sekitar kita, bertanya tentang arti dari iman, tradisi, atau nilai hidup yang kita pegang, jangan menjawab dengan klise atau sekadar aturan.
Ceritakanlah tentang bagaimana Tuhan telah membawa kita keluar dari “Mesir” kita masing-masing. Ceritakan tentang saat-saat kita merasa tak berdaya, dan Tuhan datang dengan kekuatan-Nya. Ceritakan tentang saat-saat pintu tertutup, dan Tuhan membuka jalan. Itulah warisan iman yang sejati.
Karena iman yang hidup bukan hanya yang diyakini, tapi yang dibagikan. Dan setiap cerita tentang karya Tuhan adalah benih yang bisa tumbuh menjadi pohon iman di hati orang lain. (rizkypurukan)







