EKSPOSTIMES.COM- Dalam kehidupan ini, ada banyak hal yang sulit dimengerti. Kita menyaksikan kejahatan tetap eksis, orang fasik tampak makmur, dan banyak kekuatan yang seolah melawan kebenaran tetap berdiri tegak tanpa segera dihancurkan oleh Tuhan. Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa Tuhan membiarkan hal-hal tersebut terjadi? Mengapa Tuhan tidak segera menurunkan hukuman-Nya dan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah?
Bacaan Firman Kita Dalam Keluaran 9:16 memberi kita seberkas terang mengenai cara Allah bekerja. Dalam konteksnya, ayat ini merupakan firman Tuhan kepada Firaun Mesir melalui Musa. Firaun adalah simbol kekuasaan duniawi yang arogan, yang menentang Tuhan dan menindas umat-Nya. Namun menariknya, Tuhan berkata bahwa Ia membiarkan Firaun hidup. Tidak segera menghabisinya, melainkan tetap membiarkannya berada di posisinya untuk satu alasan besar: supaya kekuatan Tuhan dinyatakan dan nama-Nya dimasyhurkan ke seluruh bumi.
Baca Juga: Tuhan Jawab Cepat, Kamu Balas Apa? (Keluaran 8:12–13)
Pernyataan ini sangat penting untuk direnungkan. Tuhan tidak tergesa-gesa dalam menjatuhkan hukuman, karena Ia punya tujuan yang jauh lebih luas daripada sekadar pembalasan instan. Ia ingin menyatakan kekuatan dan kemuliaan-Nya secara maksimal, bukan hanya kepada Firaun atau bangsa Mesir, tapi kepada seluruh bumi, sepanjang zaman.
Dari sudut pandang ini, kita belajar bahwa keberadaan musuh-musuh kebenaran, pencobaan, bahkan penderitaan, bisa saja diizinkan Tuhan untuk suatu tujuan yang lebih besar. Dalam kasus Firaun, kekerasan hatinya justru menjadi panggung bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya melalui sepuluh tulah. Tuhan menggunakan situasi itu untuk menunjukkan bahwa tidak ada dewa atau kekuasaan di dunia yang dapat melawan-Nya.
Baca Juga: Renungan: Kuasa Tuhan Tak Terbantahkan, Meski Dunia Coba Menyamai (Keluaran 7:9-13)
Demikian juga dalam hidup kita. Mungkin kita bertanya-tanya mengapa orang jahat dibiarkan terus melakukan kejahatan, atau mengapa kita sendiri mengalami tekanan yang berat, sakit, atau penindasan.
Namun bisa jadi, justru di situlah Tuhan sedang mempersiapkan pernyataan kekuatan-Nya yang lebih besar. Ia sedang bekerja, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah kita, tetapi untuk menyatakan siapa Dia sesungguhnya kepada dunia.
Kita juga bisa membalik ayat ini dan bertanya pada diri sendiri: mengapa aku masih hidup hingga hari ini? Mengapa aku dibiarkan hidup oleh Tuhan, bahkan saat aku sadar pernah melawan kehendak-Nya, berdosa, atau menjauh dari-Nya?
Jawabannya bisa jadi sama seperti yang disampaikan kepada Firaun: supaya melalui hidup kita, kekuatan Tuhan dinyatakan, dan nama-Nya dimasyhurkan di bumi.
Baca Juga: Renungan: Alasanmu Bukan Akhir Cerita (Keluaran 6:30)
Hidup kita bukan milik kita semata. Ada tujuan ilahi dalam setiap detik kehidupan yang kita jalani. Ketika kita diselamatkan, ketika kita dipulihkan, ketika kita menerima anugerah baru setiap pagi, semua itu bukan hanya untuk kenyamanan pribadi. Itu semua merupakan kesempatan bagi kita untuk menjadi cermin kekuatan Tuhan. Agar melalui hidup yang telah disentuh oleh belas kasih-Nya, orang-orang di sekitar kita mengenal siapa Tuhan yang hidup itu.
Jadi, bila hari ini kita masih hidup—dalam segala keadaan yang mungkin tidak sempurna, bahkan penuh tantangan—mari kita melihatnya sebagai kesempatan suci. Tuhan sedang bekerja. Ia membiarkan kita hidup bukan karena kita pantas, melainkan karena ada tujuan-Nya yang lebih besar. Supaya melalui kita, dunia melihat betapa besar kuasa dan kasih-Nya. Supaya nama-Nya dimasyhurkan, bukan hanya oleh kata-kata, tapi oleh kehidupan yang telah disentuh oleh tangan-Nya. (rizkypurukan)













