EKSPOSTIMES.COM- Menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, persoalan intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa. Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, Gembala GSPDI Jemaat Filadelfia Belezza, Permata Hijau, menegaskan bahwa masalah ini belum selesai dan bahkan cenderung terus berulang di berbagai daerah.
“Indonesia punya Pancasila dan UUD 1945 yang jelas menjamin kebebasan beragama, tapi praktik di lapangan masih jauh dari ideal. Pemerintah harus bisa menciptakan suasana beragama yang kondusif,” ujar Mulyadi dalam keterangannya, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, ada tiga penyebab utama lahirnya intoleransi, yakni pemahaman keliru tentang ajaran agama, rendahnya kesadaran berbangsa, dan lemahnya penegakan hukum. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi merusak persatuan nasional dan mengikis rasa saling percaya antarwarga.
Baca Juga: Dari Sertipikat Tanah hingga MBG, Pemerintah Siapkan Fondasi Kuat di HUT ke-80 RI
Mulyadi juga menyoroti pentingnya Peraturan Bersama Menteri (PBM) No. 9/8 Tahun 2006 sebagai payung hukum pendirian rumah ibadah. Meski sering diperdebatkan, ia menilai aturan ini justru membantu banyak gereja yang tak bermasalah.
“Kalau peraturan ini dicabut tanpa pengganti yang lebih kuat, akan makin sulit, apalagi di daerah-daerah yang punya peraturan berbasis syariah yang mempersulit pendirian rumah ibadah,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah pusat hingga daerah, termasuk DPR RI, dapat memberi perhatian serius terhadap penegakan aturan ini, khususnya di wilayah yang rentan konflik.
“Pemerintah dari pusat sampai RT/RW harus memahami isi PBM tersebut demi menjaga keharmonisan antarumat beragama,” imbuhnya.
Baca Juga: Indonesia Bersiap Heboh, Gladi Bersih HUT ke-80 RI Tunjukkan Semangat Nasionalisme Generasi Muda
Menutup pernyataannya, Mulyadi mengajak seluruh pemimpin gereja dan umat untuk terus mendoakan Indonesia.
“Di usia 80 tahun kemerdekaan ini, kita harus menjaga NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita percaya doa orang benar besar kuasanya,” tandasnya. (lian)













