EKSPOSTIMES.COM- Sorak bangga dan isak haru mewarnai momen sakral Yudisium Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada 9 Juli 2025. Sebanyak 55 mahasiswa resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (SH), menandai babak baru perjuangan mereka di dunia profesional.
Dalam suasana penuh kehangatan dan kebanggaan, Dekan Fakultas Hukum UKI, Dr. Hendri Jayadi Pandingan, SH, MH menyampaikan bahwa yudisium bukan sekadar seremoni akademik. Ini adalah ritus peralihan menuju tanggung jawab profesional, dan menjadi kali pertama para lulusan resmi mengenakan gelar sarjananya.
“Yudisium adalah momen pertama mereka bisa menyematkan gelar SH di belakang namanya. Ini bukan akhir, tapi awal perjalanan penuh tanggung jawab di dunia hukum,” ujar Hendri Jayadi dengan senyum bangga, Jumat (11/7).
Menurut Hendri, kompetensi intelektual saja tak cukup. Karakterlah yang menjaga seorang sarjana tetap berdiri kokoh di tengah kerasnya kompetisi. Fakultas Hukum UKI telah menanamkan enam nilai inti yang wajib dipegang oleh setiap lulusan: rendah hati, peduli, bertanggung jawab, profesional, disiplin, dan berintegritas.
“Kecerdasan bisa mengantar ke puncak, tapi karakterlah yang membuatmu bertahan di sana,” tegas pakar hukum tersebut.
Dalam yudisium semester genap 2025 ini, kualitas lulusan pun tak diragukan. Rata-rata nilai A menjadi bukti keseriusan mereka selama menempuh studi. Apalagi, UKI kini menyandang akreditasi unggul, bertaraf internasional, dan mengantongi sertifikat ISO.
“Mutu lulusan kami adalah kombinasi antara akademik, etika, dan kesiapan dunia kerja,” imbuhnya.
Menariknya, yudisium ini juga diikuti oleh para mahasiswa eksekutif, termasuk tokoh publik seperti Sari Yuliati, Bendahara DPP Partai Golkar sekaligus Wakil Ketua Komisi III DPR RI. Turut hadir pula hakim pajak, penyidik, hingga tokoh-tokoh otoritas pajak nasional. Ini membuktikan bahwa kelas eksekutif UKI menjadi magnet bagi para profesional hukum yang ingin meningkatkan kapasitasnya.
Fakultas Hukum UKI dikenal sebagai kawah candradimuka para praktisi. Dari 27 tenaga pengajar aktif, mayoritas merupakan hakim, jaksa, advokat, hingga perwira polisi, menjadikan proses belajar bukan hanya teoritis, tetapi sarat pengalaman lapangan.
Setelah lulus, para sarjana diarahkan untuk menempuh Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). UKI telah menjalin kerja sama erat dengan organisasi profesi seperti Peradi, memperkuat jejaring alumni di lingkaran hukum nasional.
Lulus tepat waktu bukan sekadar target, tapi bagian dari budaya akademik UKI. Hal ini, menurut Hendri, turut menjaga dan meningkatkan akreditasi fakultas. Rata-rata mahasiswa lulus sesuai waktu studi, didukung sistem pembinaan dan bimbingan yang ketat dan konsisten.
“Kami ingin setiap lulusan bukan hanya cerdas, tapi tepat waktu, siap pakai, dan bermutu,” tandas Hendri Jayadi. (lian)











