Pendidikan

Tragedi di Kampus Udayana: Menteri Kaget, DPR Geram, Mahasiswa Gugur dalam Bayang Perundungan

×

Tragedi di Kampus Udayana: Menteri Kaget, DPR Geram, Mahasiswa Gugur dalam Bayang Perundungan

Sebarkan artikel ini
Mendikti Saintek Brian Yuliarto menyampaikan keprihatinan atas kematian mahasiswa Universitas Udayana, Timothy Anugerah Saputra, yang diduga menjadi korban perundungan.

EKSPOSTIMES.COM- Dunia pendidikan tinggi kembali tercoreng. Seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud), Bali, bernama Timothy Anugerah Saputra (21), ditemukan tewas setelah diduga menjadi korban perundungan. Insiden yang mengguncang kampus ternama itu kini menjadi sorotan nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi hingga parlemen.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengaku terkejut dan prihatin. “Kami tentu sangat kaget dan sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa Timothy Anugerah Saputra. Kami sudah menghubungi Pak Rektor dan meminta penjelasan,” ujar Brian di Jakarta Selatan, Minggu (19/10/2025) malam.

Brian memastikan, pihak kampus telah membentuk tim investigasi khusus untuk menelusuri akar persoalan yang menimpa mahasiswa program studi Sosiologi tersebut.

“Kami mendorong agar komunikasi dengan keluarga korban terus dijaga. Pendampingan bagi semua pihak harus dilakukan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar seluruh perguruan tinggi melakukan refleksi mendalam. “Sering kali kondisi mahasiswa tertutup, padahal ada tanda-tanda yang perlu dicermati,” imbuhnya penuh tekanan.

Baca Juga: Ricuh Reformasi: Mahasiswa Trisakti Positif Narkoba Direhabilitasi, 16 Tersangka Masih Kuliah

Dari parlemen, Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Dede Indra Permana Soediro, mendesak agar kasus ini tidak ditutup dengan narasi kecelakaan semata.

“Kami berharap Polri tidak sekadar melihat ini sebagai kecelakaan, tapi menggali apakah ada unsur pidana atau kelalaian yang berkonsekuensi hukum,” ujarnya tegas, Senin (20/10).

Dede menilai, tragedi ini adalah alarm keras bagi dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh, bukan ladang tekanan sosial. Ia mendesak kampus untuk memperkuat sistem pelaporan insiden dan budaya anti-perundungan.

“Mahasiswa harus merasa aman di lingkungannya, bukan hidup dalam ketakutan akibat tekanan sosial atau senioritas,” tambahnya.

Sementara itu, Polresta Denpasar masih mendalami kronologi kejadian. Menurut Kasi Humas Kompol I Ketut Sukadi, berdasarkan keterangan saksi berinisial NKGA, korban terlihat panik sebelum akhirnya melompat dari lantai empat gedung FISIP Unud pada Rabu (15/10) pagi.

“Korban sempat duduk sebentar, lalu tiba-tiba melompat,” kata Sukadi.

Timothy sempat dibawa ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar dalam keadaan sadar, namun nyawanya tak tertolong akibat pendarahan hebat.

Kini, di balik duka keluarga dan keresahan rekan-rekan kampus, muncul pertanyaan besar: seberapa aman dunia akademik dari kekerasan nonfisik dan tekanan psikologis yang menjerat mahasiswa?

Tragedi Timothy bukan sekadar berita duka, ia adalah cermin buram dari budaya kampus yang masih menyimpan sisi gelap di balik jargon “intelektual dan humanis”. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d