EKSPOSTIMES.COM – (Bacaan Firman Kejadian 13:1-18) Kisah Abram dan Lot sering kali dipahami sebagai perbandingan antara seorang paman yang murah hati dan seorang keponakan yang egois. Namun, jika kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa kisah ini juga berbicara tentang bagaimana kita memahami dan mengikuti rencana Allah dalam hidup kita.
Ketika terjadi perselisihan antara gembala-gembala Lot dan Abram, Abram dengan rendah hati memberikan kesempatan kepada Lot untuk memilih terlebih dahulu tanah mana yang akan ia tempati. Pilihan ini tampaknya menunjukkan kebesaran hati Abram, tetapi di sisi lain, juga menunjukkan betapa naifnya ia dalam memahami janji Tuhan.
Baca Juga: Renungan Harian Kristen, Panggilan Allah Bagi Orang Percaya
Allah telah berjanji memberikan Tanah Kanaan kepada Abram dan keturunannya (Kejadian 12:7). Namun, jika Lot memilih bagian barat Kanaan, Abram harus pergi ke Timur dan meninggalkan tanah perjanjian secara permanen. Keputusan Abram ini tampaknya tidak mempertimbangkan janji Allah dengan serius. Syukurlah, dalam kedaulatan-Nya, Tuhan mengarahkan Lot untuk memilih wilayah Timur, sehingga Abram tetap berada di tanah yang telah dijanjikan.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kebaikan dan kemurahan hati harus disertai dengan kepekaan terhadap kehendak Tuhan. Ada saatnya kita mengalah, tetapi ada juga saatnya kita harus tetap berpegang teguh pada rencana Tuhan bagi hidup kita. Jangan sampai kenaifan kita membuat kita kehilangan berkat yang Tuhan sediakan.
Baca Juga: Renungan Harian Kristen, Keangkuhan Babel dan Rencana Allah
Seorang hamba Tuhan pernah dengan bijak menegur seseorang yang menghina Tuhan Yesus. Ia tidak marah atau terpancing emosi, tetapi dengan arif berkata, “Agama dan kitab sucimu menaruh hormat kepada Tuhan Yesus saya, paling tidak sebagai nabi Allah. Siapakah kamu, berani menghujat yang dihormati oleh Allahmu?” Keberanian yang arif ini adalah contoh bagaimana kita bisa membela iman dengan tetap bijaksana.
Kasih bukan berarti membiarkan diri diinjak-injak. Ketika nama Tuhan dihina, kita harus berani membela dengan arif, tanpa kehilangan hikmat dan kasih. Jadilah pribadi yang lembut, tetapi tetap teguh dalam kebenaran dan rencana Tuhan.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5). (*/Rizky)













