EKSPOSTIMES.COM – Kisah air bah dalam Kejadian 7 bukan sekadar cerita tentang bencana besar, tetapi juga merupakan gambaran tentang keadilan dan kasih Allah. Dalam peristiwa ini, kita melihat dua sisi kehidupan manusia yang bertolak belakang: ketaatan dan ketidaktaatan, penyelamatan dan kebinasaan.
Allah menciptakan manusia untuk menjadi mitra-Nya dalam menjaga dan mengelola dunia dengan setia. Namun, kenyataannya, manusia lebih memilih memberontak dan menolak Allah. Kejahatan semakin bertambah, dan bumi menjadi rusak karena dosa manusia. Dalam keadaan ini, Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan mendatangkan air bah sebagai hukuman atas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Namun, di tengah hukuman itu, ada secercah harapan: Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya. Mengapa? Karena Nuh hidup benar dan taat kepada Allah. Ia mendengarkan perintah-Nya dan membangun bahtera, meskipun mungkin tampak tidak masuk akal di mata manusia lainnya. Nuh memilih untuk percaya dan berpegang pada rencana keselamatan Allah.
Kehidupan di dalam bahtera tentu tidak mudah. Selama berbulan-bulan, Nuh dan keluarganya harus bersabar dalam ketidakpastian. Tetapi itulah bagian dari rencana keselamatan Allah. Mereka “terkurung” untuk dilindungi, bukan untuk dihukum. Demikian juga dalam hidup kita, sering kali kita merasa seperti “terkurung” dalam pergumulan dan pencobaan, tetapi di balik itu semua, Allah sedang bekerja untuk menyelamatkan dan membentuk kita.
Kisah air bah ini adalah gambaran keselamatan dalam Kristus. Sama seperti Nuh dan keluarganya hanya selamat di dalam bahtera, kita hanya bisa selamat dari hukuman dosa jika kita berada di dalam Kristus. Dia adalah “bahtera” keselamatan kita. Namun, seperti pintu bahtera yang akhirnya tertutup, suatu saat pintu keselamatan pun akan tertutup bagi mereka yang terus menolak kasih karunia Allah.
Hari ini, kita diundang untuk masuk ke dalam “bahtera” keselamatan, yaitu Kristus. Apakah kita sudah percaya dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya? Ataukah kita masih menunda dan mengeraskan hati? Jangan sampai terlambat, sebab hari penyelamatan masih terbuka, tetapi tidak akan selalu demikian.
“Hanya di dalam kematian Kristus kita terluput dari hukuman Allah yang menimpa dunia kini dan kelak.” (*)











Respon (1)