Kesehatan

Ratusan Siswa Bogor Keracunan, BGN Bertindak Tegas Evaluasi Pemasok MBG

×

Ratusan Siswa Bogor Keracunan, BGN Bertindak Tegas Evaluasi Pemasok MBG

Sebarkan artikel ini
Petugas medis memeriksa siswa korban keracunan makanan gratis di Bogor, sementara BGN melakukan evaluasi terhadap pemasok dan penyaji MBG.
Ilustrasi keracunan makanan

EKSPOSTIMES.COM- Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas setelah ratusan siswa di Kota Bogor, Jawa Barat, mengalami keracunan massal akibat mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG). BGN menegur keras Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh pemasok MBG.

Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menyatakan lembaganya langsung melakukan tindakan setelah insiden tersebut. Salah satu langkah awal adalah pemeriksaan menyeluruh terhadap sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Berhasil 99,99 Persen Meski Ada Kasus Keracunan

“Jika memang valid berasal dari makanan, seperti adanya tongkol atau bahan lain yang kualitasnya kurang baik, kami akan memberikan teguran keras kepada SPPG,” kata Tigor dalam rilis resmi, Senin (12/5/2025).

Selain teguran, BGN juga akan kembali memberikan pelatihan kepada penjamah makanan di SPPG agar lebih waspada dan higienis dalam menangani bahan makanan. Tigor menegaskan, jika ditemukan kesalahan pada bahan baku, pihaknya akan menindak tegas pemasok atau supplier yang terlibat.

“Jika ditemukan pelanggaran dan tidak ada perbaikan dari pihak supplier, maka kami akan menyetop kerjasama dengan supplier itu,” tambahnya.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyebutkan hasil pemeriksaan laboratorium Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menemukan dua jenis bakteri penyebab utama keracunan, yaitu Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella, pada dua menu makanan: telur ceplok berbumbu barbekyu dan tumis tahu toge.

“Telur ceplok dan tumis tahu toge yang disajikan ternyata mengandung E. coli dan Salmonella. Ini sangat berbahaya, apalagi dikonsumsi oleh anak-anak,” ujar Dedie dalam konferensi pers.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa telur ceplok dimasak pada malam hari dan baru dibagikan kepada siswa pada siang hari keesokan harinya. Waktu penyimpanan yang panjang tanpa pengelolaan higienis menjadi penyebab berkembangnya bakteri.

Baca Juga: Kasus Keracunan Massal Program Makanan Bergizi Gratis di Tasikmalaya, 32 Pelajar Dirawat, Total Korban Capai 400 Orang

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo, menyebutkan total korban mencapai 210 siswa dari delapan sekolah yang mendapat suplai MBG dari penyedia SPPG Bina Insani. Dari jumlah tersebut, 34 siswa masih dirawat di rumah sakit, 47 menjalani rawat jalan, dan 129 mengalami keluhan ringan.

Pemkot Bogor menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG dan akan memperketat pengawasan terhadap seluruh penyedia makanan. Dedie menekankan bahwa keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d