EKSPOSTIMES.COM- Praktik penambangan timah ilegal di Indonesia, telah menarik perhatian global. Isu ini bahkan menjadi sorotan utama dalam konferensi International Tin Associate (ITA) yang diadakan di Shanghai, China.
Berbagai pemimpin industri timah dari berbagai negara, seperti China, Peru, Amerika Serikat, Malaysia, dan Inggris, hadir dalam konferensi tersebut. Salah satu peserta yang menghadiri acara itu adalah Dicky Octa Zahriadi, Direktur Pengembangan PT Timah Tbk (TINS).
Dicky mengungkapkan bahwa diskusi dalam konferensi berfokus pada isu-isu strategis yang sedang dan akan mempengaruhi industri timah dalam beberapa tahun ke depan. Salah satu topik utama yang dibahas adalah Environmental Social and Governance (ESG), yakni bagaimana para pelaku industri mengimplementasikan dan berkomitmen pada prinsip-prinsip ESG.
“Dunia internasional juga menyoroti Indonesia terkait penambangan ilegal dan menanyakan kebijakan baru apa yang akan diambil pemerintah untuk mengatasi masalah ini, agar Indonesia dapat secara efektif menerapkan prinsip dan standar ESG di sektor pertambangan timah,” jelas Dicky.
Dicky menyampaikan optimisme PT TIMAH bahwa dengan pemerintahan dan kepemimpinan baru, industri pertambangan timah Indonesia akan semakin berkomitmen pada prinsip keberlanjutan (sustainability), terutama dalam menangani tambang ilegal. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan pemerintah Indonesia serta transparansi rantai pasokan untuk memastikan seluruh produksi timah berasal dari sumber yang jelas dan bertanggung jawab, sesuai dengan prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance).
Sebelum konferensi berakhir, para peserta juga melakukan polling mengenai proyeksi harga timah LME Cash pada tahun 2025. Sebagian besar peserta, yakni 52%, optimistis harga timah akan tetap stabil pada kisaran $30.000 – $36.000 per ton. (dtc/tim)













