EKSPOSTIMES.COM- Dentuman ritmis Tarian Kabasaran mengantar masuknya sebuah babak baru dalam gerakan sosial di Sulawesi Utara. Di Taman Kesatuan Bangsa (TKB) Manado, Rabu (19/11/2025), Organisasi Masyarakat Laskar Narapidana Mandiri (NAPIRI) Indonesia resmi dideklarasikan bertepatan dengan peringatan Hari Bakti Imigrasi dan Pemasyarakatan ke-1.
Di bawah tema “Satu Langkah, Satu Semangat, Satu Pengabdian untuk Bangsa”, deklarasi ini tampil bukan sekadar seremoni, melainkan pengumuman bahwa sekelompok warga yang pernah berada di pinggir sistem kini bersiap masuk ke ruang sosial yang lebih terang.
Ketua Panitia, Yulius Paath, tampil sebagai suara yang menantang stigma lama.
“Mereka sudah menebus kesalahannya. Mereka orang-orang mulia yang ingin memperbaiki diri,” ujarnya, kalimat yang memecah keheningan dan menjadi benang merah keseluruhan acara.
Di antara kursi tamu, pejabat imigrasi dan pemasyarakatan mencatat pesan itu. Ramdhani, perwakilan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, menegaskan NAPIRI sebagai instrumen strategis bagi rehabilitasi sosial.
Pemerintah melihat organisasi ini sebagai jembatan yang mampu mempercepat integrasi mantan warga binaan tanpa kembali tergelincir ke jalan buntu.
Senada, Kepala Kanwil Pemasyarakatan Sulut, Tonny Nainggolan, menyebut NAPIRI sebagai “wadah pembinaan lanjutan”, ruang aman bagi eks narapidana mengisi ulang martabat dan kemandirian. Namun ia mengingatkan kolaborasi lintas lembaga mutlak diperlukan agar gerakan ini tidak berhenti pada slogan.
Sorotan kemudian jatuh pada Alfa Christian Kaliey, yang resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NAPIRI Indonesia periode 2025-2027. Dalam pidatonya, ia memaparkan tujuh program nasional yang menjadi identitas awal organisasi.
Program itu meliputi penguatan ekonomi anggota, pembentukan manusia mandiri, penegakan ketertiban dan hukum, hingga dukungan terhadap Asta Cita Presiden.
Alfa menyebut NAPIRI harus hadir sebagai “ruang pemulihan sosial”, bukan hanya simbol, tetapi alat kerja nyata bagi mantan narapidana untuk kembali bermartabat.
Dukungan hadir dari berbagai lini: Forkopimda Sulut, BNN, BIN, tokoh masyarakat, hingga organisasi kemasyarakatan lain dari berbagai daerah. Kehadirannya menunjukkan bahwa isu reintegrasi sosial kini tak lagi dianggap pinggiran.
Sejalan dengan gaya organisasi modern, NAPIRI mengumumkan struktur lengkap untuk periode 2025-2027. Mesin gerakan terdiri dari pembina, pengawas, pengurus besar, biro-biro strategis, hingga kepanglimaan laskar.
I. Dewan Pembina
Ketua: Yulius Paath
Anggota: Tonny Nainggolan, R.B. Danang Yudiawan, Marulye T.S.T. Simbolon, Pradana Dymala
II. Dewan Pengawas
Ketua: Stefy Meify Andih
Anggota: Robert W. Derry, Roni A. Rumondor
III. Pengurus Besar NAPIRI
Ketua Umum: Alfa Christian Kaliey
Wakil Ketua I–V: Stevanus W. Tantu, Muhammad Halim, Fary Mailensun, Tizen Tambani, Jhonlin Sepang
Sekretariat: Victor Henzen Rindengan beserta empat sekretaris bidang
Bendahara PB: Vickly W. Kambey beserta empat bendahara bidang
NAPIRI juga membentuk kepengurusan di 10 daerah, yakni Manado, Bitung, Tomohon, Minahasa, Minut, Minsel, Mitra, Kotamobagu, Bolmong Raya, Sitaro, Talaud, dan Sangihe. (tim)













