EKSPOSTIMES.COM- Ratatotok, Minahasa Tenggara kembali diguncang! Bukan karena aktivitas tambang ilegal, melainkan ulah seorang pria yang disebut-sebut sebagai anggota aktif Kodim 1309/Manado. Aksinya yang terekam dalam video berdurasi hampir 7 menit itu viral di media sosial dan menyulut kemarahan publik.
Pria berkaus hitam berlengan panjang yang disebut berinisial OT alias Okran, berpangkat Serka, tampak adu mulut dengan warga penambang tradisional di lokasi tambang PT. Hakian Wellem Rumansi (HWR), kawasan Pasolo/Padang, Ratatotok.
Yang bikin geger, OT dengan lantang mencatut nama Danrem 131/Santiago, Brigjen TNI Martin Susilo Martopo, seolah ingin menunjukkan bahwa aksinya mendapat restu dari pucuk pimpinan. Dalam video tersebut, OT mengusir warga dengan cara kasar dan intimidatif, bak aparat dalam film perang.
“Angkat kaki kalian dari sini! Ini lokasi negara!” bentaknya, membuat warga ketakutan dan netizen geram.
Tak hanya mengusir, OT juga bersikap arogan dan memperlakukan para penambang rakyat seperti kriminal. Padahal mereka hanya menambang secara manual di tanah adat yang selama ini menjadi sandaran hidup.
Komentar netizen membanjiri unggahan video tersebut. Banyak yang menyayangkan perilaku OT dan menduga kuat ia telah menyalahgunakan nama institusi TNI-AD demi membela kepentingan perusahaan.
“Ini bukan negara militer. Rakyat bukan musuh! Kami butuh klarifikasi dari TNI,” tulis salah satu pengguna Facebook yang videonya telah ditonton puluhan ribu kali.
Menanggapi badai protes ini, Kapendam XIII/Merdeka Kolonel Inf Daniel E.S. Lalawi, S.I.P, angkat suara mewakili Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Suhardi, S.I.P.
“Terima kasih atas perhatian masyarakat. Kami sedang melakukan verifikasi dan pendalaman terhadap video yang beredar. Kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apakah benar individu dalam video adalah prajurit aktif Kodim 1309/Manado,” tegas Kapendam, Sabtu (28/6/2025), via WhatsApp.
Kapendam menekankan bahwa setiap prajurit TNI wajib bertindak berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku, serta menjunjung tinggi sikap humanis terhadap rakyat.
“Kami tidak mentolerir tindakan yang merusak citra TNI. Klarifikasi resmi akan disampaikan setelah proses investigasi rampung,” pungkas Lalawi.
Video tersebut tak hanya menimbulkan tanda tanya, tapi juga mencoreng citra TNI-AD di mata masyarakat. Jika benar OT anggota aktif, maka publik menuntut sanksi tegas. Jika bukan, maka perlu klarifikasi terbuka untuk menghindari keraguan pada netralitas aparat. (*/tim)













