EKSPOSTIMES.COM- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berayun tajam dalam dua hari terakhir, di tengah gempuran sentimen domestik dan global yang saling tarik-menarik.
Mulai dari aksi buyback saham emiten, pembagian dividen, hingga bayang-bayang kebijakan proteksionis Amerika Serikat, membuat arah IHSG tak menentu.
Pada pembukaan perdagangan Selasa (15/4/2025), IHSG sempat mencatatkan lonjakan impresif sebesar 75,82 poin atau 1,19% ke level 6.444. Lonjakan ini menghidupkan optimisme pelaku pasar, namun tak berlangsung lama. Volatilitas langsung menyeret indeks bergerak liar di tengah hari.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan saat itu mencapai 622 juta saham dengan nilai transaksi Rp682 miliar dan frekuensi sebanyak 58.076 kali. Ada 230 saham yang menguat, 110 saham terkoreksi, dan 194 saham stagnan.
Baca Juga: IHSG Meroket, Sektor Energi Jadi Motor Penggerak, Buyback dan Dividen Dongkrak Optimisme Pasar
Para analis sempat mengindikasikan potensi penguatan lanjutan, terdorong aksi korporasi berupa buyback saham serta distribusi dividen menjelang libur panjang Idulfitri. Namun sayangnya, sentimen eksternal lebih dominan menekan pasar.
Ketidakpastian kebijakan dagang AS, terutama terkait produk teknologi dan semikonduktor, kembali membayangi.
Hal ini terlihat jelas pada sesi Rabu pagi (16/4/2025). IHSG sempat dibuka naik 19,59 poin atau 0,30% ke level 6.461, namun tak lama kemudian berbalik arah dan menyentuh level terendah di 6.427 atau turun 0,22%. Indeks bergerak fluktuatif di rentang 6.350–6.500, mencerminkan minimnya sentimen penggerak kuat.
Volume perdagangan melonjak drastis menjadi 2,59 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,49 triliun dan frekuensi sebanyak 201.035 kali. Tercatat 250 saham menguat, 200 saham melemah, dan 169 saham stagnan.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya menyebut bahwa IHSG kini berada di fase jenuh beli, ditandai dengan pola doji di area resistance. Kondisi ini memberi sinyal koreksi dalam jangka pendek, dengan level support utama di kisaran 6.309.
“Tren jangka panjang IHSG masih bearish,” tulis BRI Danareksa.
Saham-saham rekomendasi mereka untuk hari ini antara lain KLBF, SSMS, dan TPIA. Sementara itu, Phintraco Sekuritas mencermati pola teknikal shooting star yang muncul sejak Selasa lalu.
Menurut mereka, ini bisa menjadi pertanda pembalikan arah, seiring ketidakpastian keputusan pemerintah AS soal tarif produk teknologi.
“Pasar masih trauma pada perubahan kebijakan dagang AS yang kerap mendadak dan menyasar berbagai sektor,” jelas Phintraco.
Saham pilihan mereka meliputi BSDE, SIDO, INDF, BRPT, dan MYOR.
Pandangan lebih pesimistis datang dari Panin Sekuritas. Mereka menyoroti potensi tekanan terhadap IHSG akibat rencana AS mengenakan tarif baru untuk semikonduktor dan komponen otomotif, serta membatasi ekspor chip. Belum lagi, derasnya capital outflow dan pelemahan Rupiah turut memperburuk situasi.
“IHSG kesulitan menembus resistance kuat di 6.500. Area support jangka pendek berada di moving average 5 dan 20 harian, yakni 6.325–6.363,” tulis Panin.
Adapun saham rekomendasi mereka yaitu BSDE, NISP, dan INPC. Di tengah tekanan global, CGS International Sekuritas Indonesia masih melihat peluang penguatan terbatas. Faktor penopang datang dari pembagian dividen dan aksi buyback emiten lokal yang bisa menjaga daya tarik pasar domestik.
Mereka memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 6.305–6.375 dan resistance 6.510–6.575. Saham-saham yang disarankan CGS antara lain INTP, BBNI, BBRI, BRIS, PGAS, dan INDF dengan status “Buy”.
Kondisi pasar pekan ini menjadi gambaran nyata tentang kompleksitas dinamika bursa. Meski ada harapan dari dalam negeri, ketidakpastian global tetap jadi penentu arah IHSG. Para investor disarankan bersikap lebih selektif, disiplin membaca indikator teknikal, dan tidak mengabaikan pengaruh nilai tukar serta kebijakan internasional yang kian agresif. (Blo/Tim)













