Peristiwa

Trump Teken Perintah Eksekutif Tarif Timbal Balik, Dunia Perdagangan Global Terancam Gonjang-ganjing

×

Trump Teken Perintah Eksekutif Tarif Timbal Balik, Dunia Perdagangan Global Terancam Gonjang-ganjing

Sebarkan artikel ini
Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif mengenai tarif timbal balik dalam kebijakan perdagangan internasional.
Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif tentang kebijakan tarif timbal balik, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi perang dagang global.

EKSPOSTIMES.COM- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya menandatangani perintah eksekutif tarif timbal balik, meskipun mendapat penolakan luas dari berbagai pihak.

Kebijakan ini menetapkan tarif dasar minimum sebesar 10 persen, dengan tarif lebih tinggi untuk negara-negara yang memiliki defisit perdagangan besar dengan AS.

Mengutip Xinhua, Kamis 3 April 2025, dalam perintah eksekutif tersebut disebutkan bahwa semua impor ke AS akan dikenakan tarif tambahan 10 persen, kecuali jika ada pengecualian khusus. Kebijakan ini mulai berlaku pada 5 April 2025.

Adapun tarif yang lebih tinggi terhadap negara-negara dengan defisit perdagangan signifikan dengan AS akan mulai diterapkan 9 April 2025.

Namun, beberapa komoditas akan dikecualikan dari kebijakan ini, termasuk baja, aluminium, mobil, dan suku cadang mobil yang sebelumnya sudah dikenakan tarif Bagian 232. Selain itu, tembaga, farmasi, semikonduktor, dan kayu juga tidak akan terkena tarif tambahan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Tarif Baru Trump Memicu Kekhawatiran Perang Dagang

Untuk Kanada dan Meksiko, barang-barang yang mematuhi Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) tetap akan dikenakan tarif nol persen.

Namun, bagi produk yang tidak sesuai dengan USMCA, tarif yang dikenakan bisa mencapai 25 persen, sementara untuk barang energi dan kalium akan dikenakan tarif 10 persen.

Trump juga mengungkapkan daftar tarif untuk berbagai negara dalam bagan yang ia presentasikan dalam pidatonya.

Beberapa tarif yang diumumkan meliputi Tiongkok 34%, Uni Eropa 20%, Vietnam 46%, Jepang 24%, India 26%, Korea Selatan 25%, Thailand 36%, Swiss 31%, Indonesia 32%, Malaysia 24%, dan Kamboja 49%.

Trump menuduh negara-negara mitra dagang telah memberlakukan hambatan nonmoneter terhadap AS, seperti manipulasi mata uang dan kebijakan perdagangan yang tidak adil. Namun, pakar ekonomi menyebut klaim Trump ini tidak memiliki dasar yang kuat.

Gary Clyde Hufbauer, peneliti senior di Peterson Institute for International Economics, menilai kebijakan ini sebagai rekayasa tanpa dasar yang jelas.

“Tidak ada justifikasi untuk tarif sebesar ini. Trump mengklaim ini sebagai langkah adil, padahal kebijakan ini hanya akan memperburuk hubungan perdagangan global,” ungkapnya.

Meskipun Trump mengklaim bahwa tarif baru ini akan meningkatkan pemasukan negara dan mendukung industri manufaktur AS, banyak ekonom memperingatkan dampak buruknya.

Kebijakan ini diprediksi akan menaikkan harga barang di AS, menghambat perdagangan global, dan merusak ekonomi dunia.

“Langkah ini merupakan eskalasi serius dari perang dagang Trump. Dampaknya bisa memicu pembalasan dari negara lain, menaikkan biaya produksi, dan memperburuk inflasi,” kata Hufbauer.

Ia bahkan memperingatkan bahwa tarif ini lebih ekstrem dari perkiraan dan bisa membuat AS terjerumus ke dalam resesi.

“Sulit membayangkan AS terhindar dari resesi jika kebijakan ini terus berlanjut. Bahkan, pertumbuhan ekonomi global bisa turun lebih dari satu persen akibat kebijakan ini,” pungkasnya.

Dengan kebijakan tarif baru ini, dunia kini menunggu bagaimana reaksi dari negara-negara mitra dagang utama AS. Jika langkah balasan dilakukan, perang dagang global bisa semakin panas dan mengancam stabilitas ekonomi internasional. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d