EKSPOSTIMES.COM- Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Mamasa yang tengah menempuh pendidikan di Makassar kembali turun ke jalan untuk menyuarakan kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Kabupaten Mamasa.
Aksi protes ini digelar di halaman asrama mahasiswa Mamasa, Minggu (16/3/2025), dengan membentangkan spanduk tuntutan serta membakar ban bekas sebagai bentuk kegeraman mereka. Para mahasiswa yang tergabung dalam aksi ini menyatakan bahwa kondisi asrama yang mereka tempati sudah tidak layak huni dan membutuhkan perhatian segera dari pemerintah daerah.
Heri Virgo, selaku koordinator lapangan, membenarkan aksi tersebut dan menegaskan bahwa tuntutan mereka masih sama seperti sebelumnya. Mahasiswa menuntut Pemkab Mamasa segera mengambil langkah nyata dalam merehabilitasi gedung asrama yang kondisinya semakin memprihatinkan.
Baca Juga: Mahasiswa Mamasa di Makassar Kembali Berdemo, Tuntut Perbaikan Asrama yang Terbengkalai
“Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Mamasa untuk segera merehabilitasi asrama mahasiswa Mamasa di Makassar, serta membayarkan gaji penjaga asrama yang telah tertunda selama dua tahun, sejak 2023 hingga 2024,” ujar Heri saat diwawancarai.
Menurutnya, sejak diresmikan pada 2018, asrama ini nyaris tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal, kondisi bangunan kini sangat memprihatinkan, dengan plafon yang sering roboh, dinding yang mulai retak, serta fasilitas kamar mandi dan WC yang tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, atap yang bocor dan minimnya perawatan bangunan membuat mahasiswa semakin kesulitan untuk tinggal dengan nyaman.
“Sebelumnya, kami sudah mengunggah foto-foto kerusakan ini ke media sosial dengan harapan ada respons dari Pemkab Mamasa. Namun sayangnya, tak ada tanggapan sama sekali,” tambahnya.
Mahasiswa yang tinggal di asrama ini pun mengaku tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Mereka khawatir akan keselamatan mereka sendiri jika kerusakan semakin parah. Beberapa mahasiswa bahkan mengungkapkan bahwa mereka terpaksa mencari tempat tinggal alternatif karena kondisi asrama yang tidak memungkinkan untuk dihuni dalam jangka panjang.
“Kami hanya ingin hak kami diperhatikan. Kami ini anak-anak Mamasa yang berjuang menuntut ilmu di perantauan, tapi kondisi tempat tinggal kami justru diabaikan. Jika pemerintah tetap menutup mata, kami tidak akan berhenti berjuang dan siap melakukan aksi lebih besar, termasuk demonstrasi langsung di kantor Bupati Mamasa,” tegas Heri menutup pernyataannya.
Aksi ini menjadi alarm bagi Pemkab Mamasa untuk segera turun tangan. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin gelombang protes akan semakin besar. Mahasiswa berharap adanya tindakan konkret dari pemerintah dan transparansi terkait anggaran pemeliharaan asrama agar kondisi mereka dapat diperbaiki dengan segera. (Adrianus)












