Renungan

Renungan Harian: TUJUAN HIDUP BERKELUARGA

×

Renungan Harian: TUJUAN HIDUP BERKELUARGA

Sebarkan artikel ini

 Filipi 3:10-16

 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia….” [Filipi 3:10]

EKSPOSTIMES – Setelah selesai ujian akhir sekolah, biasanya orang akan bertanya “Mau lanjut sekolah dimana?”. Pertanyaan tersebut sangat sederhana. Tapi entah mengapa tidak sedikit orang yang sulit menjawabnya.

Jika seseorang tidak memiliki tujuan hidup. Maka hidupnya akan seperti layang-layang yang putus dari genggaman dan terbang tanpa arah dan tujuan.

Rasul Paulus mengungkapkan tujuan hidupnya ialah mengenal Tuhan Yesus dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya.

Rasul Paulus ingin agar hidupnya lebih dekat lagi dengan Yesus. Rasul Paulus sadar bahwa tanpa Yesus manusia tidak ada apa-apanya. Rasul Paulus memiliki tujuan hidup yang sangat jelas dan tidak lekang oleh waktu. Bagaimana dengan kita?

Tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan seperti yang di angan-angan banyak muda-mudi sebelum menikah, melainkan pertumbuhan.

Kebahagiaan itu justru ditemukan di tengah-tengah perjalanan pernikahan yang dilandasi cinta kasih Kristus. Kalau tujuan kita menikah adalah bahagia, maka pasangan kita akan kita peralat demi mencapai kebahagiaan itu.

Itu sebabnya, orang yang menikah dengan tujuan bahagia justru menjadi yang paling tidak bahagia dalam pernikahannya. Bahkan, tujuan ini banyak mengakibatkan perceraian, dengan alasan ia tidak merasa bahagia dengan pasangannya.

Ada beberapa landasan keliru yang membuat seseorang cepat-cepat menikah. Pertama, demi keperluan psikologis, yakni supaya merasa tidak sendirian atau kesepian.

Kedua, demi kebutuhan biologis, yakni agar dapat memuaskan nafsu seks secara wajar. Ketiga, demi rasa aman, yakni supaya mempunyai status sosial dan dihargai masyarakat.

Keempat, agar mempunyai anak. Ini semua bukan merupakan alasan atau tujuan yang kuat mengapa seseorang menikah.

Dalam berumah tangga, kita akan mengalami begitu banyak keadaan dan situasi yang tidak diharapkan. Misalnya, pasangan Anda gagal dalam pekerjaan. Pasangan Anda menyeleweng. Pasangan Anda sakit atau cacat.

Kondisi itu pasti tidak menyenangkan. Tetapi kalau Tuhan mengizinkan hal-hal tersebut terjadi, kita perlu belajar dari hal-hal tersebut.

Lewat situasi dan keadaan itulah cinta kita diuji, apakah kita tetap berpegang teguh pada janji pernikahan kita dan setia kepada pasangan kita sampai kematian memisahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d