EKSPOSTIMES.COM – Suasana tegang kembali membara di garis perbatasan Indonesia–Timor Leste. Konflik lama perebutan tapal batas di Distrik Oecusse, tepatnya di Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, pecah pada Senin (25/8/2025). Seorang warga, Paulus Oki (58), dilaporkan terluka akibat terkena tembakan ketika memprotes pembangunan pilar perbatasan.
Bentrokan berawal dari pembangunan 100 pilar batas negara yang dibangun pihak Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) dari Desa Inbate hingga Desa Nunpo, TTU. Pembangunan ini membuat keresahan warga Inbate, yang kebun dan lahan garapannya tiba-tiba masuk ke dalam klaim wilayah Timor Leste.
Mereka menolak keras pembangunan tersebut.
“Bagi kami, tanah itu masih wilayah Indonesia. Kami yang turun-temurun kelola lahan di sana tidak pernah merasa itu bagian dari Timor Leste,” ungkap seorang warga dengan nada emosional.
Puncak ketegangan terjadi saat warga berkumpul melakukan protes di lokasi pembangunan pilar. Suasana ricuh tak terhindarkan.
“Saat kami protes, tiba-tiba ada bunyi tembakan dan mengenai Paulus Oki pada bagian bahu sebelah kanan,” kata salah satu saksi mata. Dugaan sementara, tembakan itu dilepaskan anggota Unidade da Polícia Fronteira (UPF) Timor Leste.
Paulus Oki langsung terkapar bersimbah darah, membuat kepanikan melanda warga. Mereka berlarian mencari perlindungan, sementara teriakan histeris memecah udara di tengah hujan deras yang mengguyur kawasan perbatasan.
Ketegangan ini dipicu oleh polemik pilar batas nomor 35 yang sejak lama menjadi batu sandungan. Pemerintah pusat menyatakan masalah sudah selesai, namun masyarakat lokal menolak, dengan alasan mereka tidak pernah menerima isi kesepakatan. Warga tetap berpegang pada batas provinsi yang disepakati tahun 1988, yang mereka yakini masih sah sebagai garis wilayah NKRI.
Pasca insiden, aparat TNI, Polri, dan pemerintah daerah langsung bergerak cepat. Dandim 1618/TTU, Letkol Arm Didit Prasetyo, Dansatgas Pamtas RI–RDTL Distrik Oecusse, dan Kapolres TTU AKBP Eliana Papote mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pengamanan. Di TKP ditemukan selongsong peluru kaliber 5,56 mm yang tercecer, diduga digunakan aparat Timor Leste.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah Timor Leste. Namun insiden ini semakin mempertegas rapuhnya perdamaian di garis batas dua negara.
Warga Inbate kini diliputi ketakutan, tetapi tetap bertekad mempertahankan tanah yang mereka yakini sebagai bagian dari Indonesia.
Pertanyaan besar pun menggantung: sampai kapan bara konflik tapal batas ini akan terus memakan korban, sementara diplomasi antarnegara berjalan lamban?. (Lip/Tim)







