EKSPOSTIMES.COM- Ketika Musa menyampaikan firman Tuhan tentang pembangunan Kemah Suci, umat Israel merespons dengan luar biasa. Mereka datang membawa persembahan emas, perak, tembaga, kain, kulit, kayu, bahkan hasil tenunan tangan mereka.
Tetapi lebih dari sekadar benda, yang mereka bawa adalah hati mereka yang digerakkan oleh kasih dan sukarela. Alkitab mencatat bahwa “setiap orang yang terdorong hatinya, dan setiap orang yang terdorong jiwanya” datang mempersembahkan sesuatu bagi Tuhan.
Bagian ini memberi kita gambaran indah tentang penyembahan yang sejati. Bukan hanya soal persembahan materi, tetapi penyerahan total atas hidup kepada Tuhan.
Baca Juga: Dari Takut Menjadi Percaya: Menyaksikan Kuasa Tuhan di Tengah Ketidakmungkinan (Keluaran 14:30-31)
Mereka memberi karena sadar bahwa segala yang mereka miliki berasal dari Tuhan. Harta mereka, keterampilan mereka, bahkan tenaga mereka, dikembalikan untuk melayani maksud Tuhan. Inilah bentuk awal dari persembahan tubuh dan jiwa secara utuh.
Apa yang bisa kita pelajari dari respons umat Israel ini?
Pertama, pelayanan kepada Tuhan adalah panggilan bagi semua orang, bukan hanya untuk segelintir tokoh rohani. Dalam Keluaran 35, tidak hanya para imam atau orang-orang tertentu yang memberi, tetapi seluruh umat laki-laki dan perempuan, tua dan muda, pemimpin dan rakyat biasa ikut ambil bagian sesuai kapasitas mereka. Artinya, setiap orang punya bagian dalam pekerjaan Tuhan. Tak seorang pun terlalu kecil untuk dipakai.
Kedua, apa pun yang kita miliki bisa dipersembahkan jika kita bersedia. Beberapa orang membawa emas dan permata, sementara yang lain memintal bulu kambing atau membawa kayu penaga. Bahkan perempuan-perempuan yang memintal benang pun dicatat secara khusus. Ini menunjukkan bahwa tidak ada persembahan yang dianggap rendah atau tidak penting. Yang Tuhan lihat bukanlah besar-kecilnya pemberian, tetapi ketulusan hati di baliknya.
Ketiga, pembangunan rohani umat Tuhan memerlukan kerja sama tubuh Kristus secara utuh. Kemah Suci adalah tempat di mana kehadiran Tuhan dinyatakan. Untuk membangunnya, diperlukan keterlibatan semua pihak: penyedia bahan, tukang yang ahli, penenun, pengrajin, bahkan mereka yang mengatur dan menyatukan semuanya. Begitu pula gereja masa kini: dibangun bukan oleh satu atau dua orang saja, melainkan oleh komunitas orang percaya yang mempersembahkan hidupnya bersama-sama.
Baca Juga: Lebih Baik Lapar di Padang Gurun daripada Kenyang di Mesir (Keluaran 16:2-3)
Di zaman ini, kita tidak lagi membangun Kemah Suci secara fisik, tetapi kita membangun Kerajaan Allah melalui kesaksian hidup, pelayanan, dan kasih yang nyata. Tubuh kita menjadi bait Roh Kudus, dan hidup kita menjadi sarana untuk menghadirkan terang Kristus di dunia. Pertanyaannya: sudahkah kita mempersembahkan tubuh dan jiwa kita untuk pekerjaan Tuhan?
Bukan soal seberapa besar persembahan kita, melainkan apakah kita mau terlibat. Apakah tangan kita siap bekerja? Apakah hati kita siap digerakkan? Apakah kita masih menunggu orang lain melayani, ataukah kita bersedia melangkah terlebih dahulu?
Bangsa Israel pada waktu itu menjawab panggilan Tuhan dengan membawa apa yang mereka punya. Hari ini, giliran kita. (*/Rizky)










