Berita UtamaPeristiwa

Warganet Menggugat! Capil Tondano di Bawah Robby Dondokambey Dituding Amburadul, Calo Malah Jadi “Pahlawan”

×

Warganet Menggugat! Capil Tondano di Bawah Robby Dondokambey Dituding Amburadul, Calo Malah Jadi “Pahlawan”

Sebarkan artikel ini
Puluhan warga antre di Dinas Capil Tondano, Minahasa, di tengah keluhan sistem error dan lambatnya pelayanan, sementara dugaan praktik calo mencuat.
Pelayanan Capil Tondano dikecam publik akibat sistem error dan lambatnya layanan. Dugaan praktik calo kian mencuat. Masyarakat desak Bupati Minahasa ambil tindakan.

EKSPOSTIMES.COM- Bukan cuma lambat, pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Capil) Tondano di bawah pimpinan Robby Dondokambey kini dikecam habis-habisan oleh warganet. Akun Facebook bernama Argon Ciles memantik amarah publik lewat unggahan pedas yang kini viral: Capil disebut lambat, alat rusak, sistem error, dan… calo diduga jadi solusi tercepat.

“Musti pake calo supaya cepat!” tulis Argon dalam unggahan bernada marah. Postingan itu dilengkapi tagar menyindir: #BUPATI_Minahasa, sebagai bentuk desakan agar kepala daerah tidak tutup mata atas kekacauan ini.

Ratusan komentar membanjiri unggahan tersebut, mayoritas senada: pelayanan Capil Tondano dinilai menyengsarakan rakyat.

Arter Yohan MM membandingkan kondisi saat ini dengan era 80–90-an. Dulu cukup ke kantor desa, sekarang harus ke Tondano dan dihadiahi antrian mengular, loket kosong, serta pegawai yang ‘hilang’ saat dibutuhkan.

Rommy Qey Mantik, warga Minahasa yang kini berdomisili di Jakarta, bahkan mengaku cuti kerja hanya untuk mengurus dokumen kependudukan, namun pulang dengan tangan hampa.

“Kita kerja di luar daerah, datang waktu cuti, malah disuruh tunggu sistem yang selalu error. Terpaksa pakai agen, tapi tetap tak selesai. Pemerintah senang terima pajak, tapi pelayanan? Nol besar!” sindirnya tajam.

Lebih ironis lagi, saat jam istirahat datang, menurut kesaksian Virjiny Piring, semua pegawai Capil keluar serempak untuk makan, menyisakan satu staf menjaga. Puluhan warga yang mengantri terpaksa gigit jari.

“Pagi datang, sore belum dipanggil. Akhirnya dibilang ‘sudah terlewati’, lalu cuma minta maaf. Tapi kalau lewat calo? Gampang dan cepat. Ini pelayanan atau parodi?” tulis Virjiny Piring.

Kondisi ini membuat publik bersuara keras. Pelayanan publik di Minahasa harus dibayar dengan kesabaran super, atau… dengan uang lewat jalur belakang?

Kini masyarakat tak butuh janji manis atau permintaan maaf standar. Yang ditunggu cuma satu: tindakan tegas dari Bupati Minahasa terhadap institusi yang dianggap lebih sibuk istirahat ketimbang melayani. (Fharly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sbobet

INDOBET365

LALIGA365

pokerqq online

SBET11

slot gacor

yy4d