EKSPOSTIMES.COM- Tangis seorang kakek pecah di tanah sendiri. Bukan karena bencana alam, tapi karena tanah warisan keluarganya diduga dirampas mafia. Lebih menyakitkan lagi, ia merasa aparat hukum justru berpihak pada si perampas.
Namanya Karel Takumangsang (66). Suaranya lirih, tapi kemarahannya membara. Di depan rumah yang nyaris menjadi saksi bisu penindasan, pria lanjut usia ini memohon keadilan langsung kepada Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Roycke Harry Langie. Yang dia lawan bukan orang sembarangan: seorang pria bernama Agus Abidin, yang disebut warga sebagai mafia tanah kelas kakap.
“Bapak Kapolda Sulut, kami rakyat miskin tidak punya daya. Tapi jangan biarkan hukum dibeli!” seru Opa Karel dengan nada putus asa.
Menurutnya, Agus Abidin sudah lama mengincar tanahnya. Tak cukup dengan surat-surat, ia mengirim ‘pasukan’, pengacara, preman, bahkan oknum polisi yang diduga membekingi.
“Mereka masuk begitu saja ke tanah kami. Bawa pengacara, preman, dan tiga polisi. Siapa sebenarnya yang punya kuasa di negeri ini?” ucapnya getir.
Yang lebih memprihatinkan, menurut pengakuannya, laporan Opa Karel ke Polres Minahasa Utara mandek. Berkali-kali ia mengetuk pintu hukum, namun tak pernah dibuka. Sebaliknya, laporan balik dari pihak Agus Abidin justru langsung melesat ke penyidikan, dan tragisnya, kini Opa Karel malah jadi terlapor.
“Kami yang korban, malah dijadikan tersangka. Laporan saya seperti dibuang ke tong sampah,” kata Opa dengan mata berkaca-kaca.
Seruan Opa Karel kini menggema, ia berharap Kapolda Sulut turun tangan langsung membersihkan Polres Minut dari oknum aparat yang diduga bermain mata dengan mafia tanah.
Baca Juga: Diperiksa 9 Jam Oleh Polda Sulut Terkait Kasus Tanah di Minut, Agus Abidin: Cukup-cukup
“Kalau hukum masih ada, buktikan sekarang. Jangan biarkan polisi jadi alat mafia,” pintanya lantang.
Kasus ini bukan cuma soal sengketa tanah. Ini soal luka dalam keadilan, ketika rakyat kecil merasa dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka. Dan pertanyaannya kini menggantung tajam di udara. Jika hukum hanya berpihak pada yang berduit, untuk siapa sebenarnya negara ini berdiri?. (riz)













