EKSPOSTIMES.COM- Kasus menghebohkan Fantasi Sedarah membuka mata publik tentang pentingnya penguatan edukasi keluarga. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) merespons serius dengan mendorong strategi nasional pengasuhan dan pendidikan keluarga sejak dini, termasuk lewat program sekolah pranikah.
“Tak ada sekolah untuk jadi orang tua. Karena itu, edukasi keluarga harus dimulai sebelum pernikahan,” tegas Deputi Kemenko PMK Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Senin (26/05/2025)
Baca Juga: Program Bela Negara Jabar Menuai Pujian, Sentuh Emosi Anak dan Orang Tua, Layak Jadi Model Nasional
Grup media sosial bernama Fantasi Sedarah yang berisi konten inses viral dan menyeramkan telah menyeret enam pelaku ke ranah hukum. Meski proses hukum berjalan, Kemenko PMK menilai bahwa penyelesaian akar masalah justru ada di dalam rumah, tempat semua nilai dan karakter anak dibentuk.
“Kasus ini menunjukkan bahwa ada kegagalan dalam pola asuh dan nilai moral yang diajarkan sejak kecil,” ujar Woro.
Kemenko PMK kini tengah memperluas kolaborasi dengan BKKBN untuk memperkuat kurikulum pranikah. Bukan hanya soal peran suami-istri secara agama, tetapi juga tentang keterampilan pengasuhan, perlindungan anak, hingga pencegahan kekerasan seksual dalam keluarga.
“Kami tambahkan konten penguatan parenting, terutama terkait perlindungan anak dan perempuan,” jelas Woro.
Program ini juga menyasar orang tua muda dan pasangan calon pengantin agar siap menghadapi tantangan membangun rumah tangga yang sehat, aman, dan bebas dari penyimpangan perilaku seksual.
Strategi Kemenko PMK tidak berhenti di pelatihan. Intervensi lapangan jadi kunci. Ribuan kader Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Bina Keluarga Lansia (BKL) akan diberdayakan lebih aktif dalam mendampingi keluarga.
Baca Juga: Polisi Bongkar Grup Facebook Fantasi Sedarah, Diduga Sebar Konten Inses dan Eksploitasi Anak
“Para kader ini jadi garda terdepan yang tahu cara mendekati keluarga secara langsung. Mereka kita bekali agar bisa deteksi dan cegah penyimpangan sejak dini,” tandas Woro.
Meski intervensi terhadap ranah domestik bukan perkara mudah, Kemenko PMK yakin bahwa upaya ini penting dan mendesak. Penguatan nilai moral, edukasi seks sehat, dan perlindungan anak di lingkungan keluarga adalah kunci mencegah tragedi seperti Fantasi Sedarah terulang kembali. (tim)








