EKSPOSTIMES.COM- Keluaran 15:11-13 adalah bagian dari nyanyian kemenangan Musa dan bangsa Israel setelah Allah membelah Laut Teberau dan menyelamatkan mereka dari kejaran tentara Mesir. Ayat ini bukan sekadar lagu kemenangan biasa, melainkan pengakuan akan karakter Allah yang kudus, dahsyat, dan penuh kasih setia.
Di dalamnya, kita diajak untuk merenungkan bagaimana Tuhan bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga menuntun dan membimbing umat-Nya menuju kehidupan yang dijanjikan.
Baca Juga: Bukan Cuma Diselamatkan, Tapi Diubah (Keluaran 15:2, TB)
Pertama, mari kita perhatikan pertanyaan retoris yang dibuka dalam ayat 11: “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN?” Ini adalah pernyataan pengakuan bahwa tidak ada satu pun kuasa lain yang bisa disamakan dengan Tuhan.
Zaman Musa adalah zaman di mana banyak bangsa menyembah dewa-dewi, namun pengalaman Israel membuktikan bahwa hanya Tuhan yang hidup dan berkuasa. Karya keselamatan di Laut Teberau bukan hanya mukjizat, tetapi pernyataan tegas bahwa Allah Israel adalah Tuhan atas sejarah dan alam semesta.
Pernyataan berikutnya menegaskan bahwa Tuhan “mulia karena kekudusan-Nya” dan “menakutkan karena perbuatan-Nya yang masyhur.” Kekudusan di sini bukan hanya soal kemurnian moral, tetapi juga keterpisahan dan keagungan yang tak tertandingi.
Allah bukan seperti manusia—Dia tidak bisa disamakan dengan kuasa lain. Tindakan-Nya menggetarkan karena membawa penghakiman bagi musuh dan keselamatan bagi umat pilihan.
Dalam peristiwa penyeberangan Laut Teberau, Allah menunjukkan bahwa kuasa-Nya melampaui kekuatan militer terbesar di dunia saat itu, yakni pasukan Firaun.
Ayat 12 menambahkan gambaran dramatis: “Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu; bumi pun menelan mereka.” Ini menunjukkan betapa mudahnya bagi Tuhan untuk menghancurkan kekuatan yang paling menakutkan sekalipun.
Tangan kanan sering kali melambangkan kekuatan dan keadilan. Dengan tangan kanan-Nya, Tuhan tidak hanya bertindak, tetapi juga menghakimi. Ini menjadi peringatan bahwa Allah bukan hanya penuh kasih, tetapi juga adil. Tidak ada kekuatan jahat yang bisa berdiri di hadapan-Nya.
Namun, puncak dari renungan ini terletak pada ayat 13: “Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.” Ini berbicara tentang kasih setia Allah yang menjadi dasar dari semua tindakan-Nya.
Kata “kasih setia” dalam bahasa Ibrani adalah hesed, yang menggambarkan kasih yang tidak tergoyahkan, loyal, dan penuh komitmen. Umat Israel tidak diselamatkan karena mereka layak, tetapi karena Allah berkomitmen pada janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.
Penebusan yang Tuhan lakukan bukanlah akhir dari cerita, tetapi awal dari perjalanan. Allah tidak hanya membebaskan, tetapi juga menuntun. Ia membimbing umat-Nya dengan kekuatan yang sama yang membelah laut—menuju tempat kediaman-Nya yang kudus.
Dalam konteks Israel, ini menunjuk pada Tanah Perjanjian, tetapi dalam terang perjanjian baru, ini menunjuk pada kehidupan dalam hadirat Allah yang kekal.
Renungan ini mengajak kita untuk tidak hanya melihat Allah sebagai penyelamat dalam saat-saat krisis, tetapi juga sebagai pembimbing dalam perjalanan hidup.
Baca Juga: Dari Takut Menjadi Percaya: Menyaksikan Kuasa Tuhan di Tengah Ketidakmungkinan (Keluaran 14:30-31)
Kuasa yang sama yang menyelamatkan kita dari maut, adalah kuasa yang menuntun kita setiap hari. Kasih yang sama yang menebus kita, adalah kasih yang tidak akan pernah meninggalkan kita dalam padang gurun kehidupan.
Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian, kita sering kali tergoda untuk meragukan kehadiran dan pemeliharaan Allah. Namun firman ini mengingatkan bahwa Tuhan yang kudus dan berkuasa itu adalah juga Tuhan yang setia dan membimbing.
Tidak ada allah lain yang seperti Dia. Dia bukan hanya Tuhan dari keajaiban besar, tetapi juga Tuhan dari langkah-langkah kecil yang kita tempuh setiap hari. Kita tidak berjalan sendiri. Kita dituntun oleh tangan yang sama yang membelah laut. (*/rizkypurukan)













