EKSPOSTIMES.COM- Militer Israel resmi meluncurkan operasi besar-besaran bertajuk Gideon’s Chariots atau Kereta Perang Gideon di Jalur Gaza. Serangan ini diklaim sebagai langkah untuk mengalahkan kelompok Hamas serta membebaskan sandera yang masih ditahan sejak pecahnya konflik pada 7 Oktober 2023.
Pengumuman operasi dilakukan melalui akun X resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berbahasa Ibrani. Dalam pernyataan tersebut, IDF menyebut telah memobilisasi pasukan untuk merebut wilayah strategis dan menetralisasi ancaman dari Hamas. Namun, nama operasi “Kereta Perang Gideon” tidak digunakan dalam unggahan versi berbahasa Inggris.
Baca Juga: Krisis Gaza, 65.000 Anak Nyaris Tewas Kelaparan, Blokade Israel Dinilai sebagai Strategi Pemusnahan
Dalam 24 jam terakhir, IDF mengklaim telah menyerang lebih dari 150 “target teror” di seluruh Jalur Gaza. Serangan itu menuai korban jiwa dalam jumlah besar. Otoritas yang dikelola Hamas melaporkan sedikitnya 250 warga Palestina tewas sejak Kamis, sementara Reuters mencatat sedikitnya 58 orang meninggal akibat serangan udara semalam.
Situasi kemanusiaan di Gaza kian memburuk sejak Israel memberlakukan blokade total bantuan kemanusiaan pada Maret lalu. Kebijakan itu diambil setelah gagalnya perundingan gencatan senjata yang sempat berlangsung dua bulan.
“Banyak orang kelaparan di Gaza,” ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, dalam komentarnya terkait kondisi di wilayah tersebut.
Menurut The Times of Israel, operasi “Kereta Perang Gideon” mengacu pada tokoh pejuang dalam Alkitab. Operasi ini melibatkan penguasaan wilayah, relokasi warga sipil ke bagian selatan Gaza, serta penghancuran markas Hamas. IDF juga disebut akan mencegah Hamas mengakses pasokan bantuan.
Namun perintah evakuasi warga sipil dari Gaza utara dan tengah dinilai mustahil dilakukan secara aman. Banyak warga yang telah berulang kali kehilangan tempat tinggal. Para pekerja bantuan menyebut relokasi tersebut hanya menambah beban dan penderitaan warga yang sudah sangat kekurangan.
Ribuan tentara Israel, termasuk dari pasukan cadangan, dikabarkan akan memasuki Gaza dalam waktu dekat. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan internasional agar Israel menghentikan serangan dan membuka akses bantuan.
Kepala Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, memperingatkan bahwa eskalasi militer Israel dapat melanggar hukum internasional. Ia menyoroti serangan bom yang menghancurkan lingkungan pemukiman secara sistematis dan memaksa perpindahan penduduk.
“Ini mengarah pada perubahan demografis permanen yang bisa dikategorikan sebagai pembersihan etnis,” tegas Türk.
Dari sisi diplomatik, pembicaraan gencatan senjata kembali digelar di Doha, Qatar. Menurut Reuters, juru bicara Hamas Taher al-Nono menyatakan bahwa kedua pihak berdiskusi tanpa prasyarat. Qatar sendiri kembali berperan sebagai mediator dalam konflik berkepanjangan ini.
Hamas dalam pernyataan terpisah melalui Telegram mendesak para peserta KTT di Baghdad untuk segera menjatuhkan sanksi terhadap Israel. Mereka menuduh Israel terus melakukan pembantaian terhadap warga sipil serta memutus total bantuan ke wilayah yang terkepung.
“Lebih dari dua setengah juta orang kini dibantai dalam genosida di depan mata dunia yang diam,” ujar Hamas.
Laporan BBC mengungkap kondisi mengenaskan di lapangan. Di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, seorang ahli bedah rekonstruksi asal Inggris, Victoria Rose, menggambarkan tim medisnya “kelelahan dan kekurangan gizi”.
Baca Juga: WHO Peringatkan Sistem Kesehatan Gaza Lumpuh Total, Ancaman Kematian Massal di Depan Mata
“Anak-anak sangat kurus, banyak yang kehilangan gigi. Luka bakar parah dan malnutrisi membuat mereka sulit sembuh,” ujarnya.
Sebuah penilaian yang didukung PBB menyatakan bahwa penduduk Gaza kini berada dalam risiko kritis kelaparan massal. Namun, pemerintah Israel terus membantah bahwa wilayah itu mengalami kekurangan pangan.
Konflik ini bermula dari serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sejak saat itu, Israel melancarkan kampanye militer untuk “menghancurkan Hamas”. Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 53.000 orang telah tewas dalam konflik ini. (*/tim)












