EKSPOSTIMES.COM- Konflik antar desa kembali mencoreng wajah perdamaian di Minahasa. Kali ini, api permusuhan lama yang tak kunjung padam memicu bentrokan berdarah antara pemuda Desa Tember dan Kamanga Dua. Korbannya? Generasi muda yang kehilangan arah di tengah minimnya peran tokoh masyarakat dan lemahnya kontrol sosial.
Senin dini hari, 12 Mei 2025, pukul 01.30 WITA, jalan sunyi di Tompaso mendadak berubah jadi arena kekerasan. Kelompok pemuda dari dua desa bertetangga terlibat bentrok brutal dengan senjata tajam. Warga yang terbangun dari tidur mendapati desanya berubah jadi medan ketegangan yang mencekam.
Baca Juga: Polres Minahasa Sita 75 Botol Captikus Ilegal di Eris, Bagian dari Operasi Premanisme
Menurut Polsek Tompaso, ini bukan kejadian pertama.
“Sudah beberapa kali bentrok. Ini bukan konflik baru, melainkan dendam turun-temurun yang belum terselesaikan,” ungkap salah satu petugas.
Akar masalahnya ternyata lebih dalam dari sekadar pertikaian sesaat, mulai dari saling sindir di media sosial, adu mulut saat hajatan, hingga konflik senioritas antar pemuda.
“Dendam dibalas dendam. Lingkaran setan yang terus berulang,” tambah petugas tersebut.
Polisi bertindak cepat. Sekitar pukul 10.30 WITA, delapan pemuda berhasil ditangkap. Tujuh di antaranya berasal dari Tember dan Kamanga Dua, satu lagi dari Langowan Timur. Mirisnya, sebagian dari mereka masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Bahkan ada yang masih di bawah umur.
Barang bukti berupa senjata tajam juga diamankan. Fakta ini menunjukkan bahwa kekerasan telah menjadi bahasa baru dalam menyelesaikan konflik antar pemuda desa.
“Anak-anak ini kehilangan arah. Tak ada tokoh muda yang bisa dijadikan panutan. Mereka butuh ruang positif untuk menyalurkan potensi, bukan dibiarkan tenggelam dalam budaya balas dendam,” kata seorang tokoh masyarakat yang meminta namanya untuk dipublikasi.
Lemahnya intervensi sosial, minimnya kegiatan produktif, dan ketidakaktifan tokoh adat serta aparat desa dinilai ikut memperparah situasi.
Kapolsek Tompaso Ipda Rinto Langi menegaskan bahwa para pelaku dan barang bukti sudah dilimpahkan ke Polres Minahasa. Namun seorang anggota Bhabinkamtibmas memperingatkan bahwa pendekatan hukum semata tak cukup.
Baca Juga: Patroli Malam Polres Minahasa Cegah Kejahatan, Pria Pembawa Badik Diamankan di Desa Pulutan
“Kalau akar konfliknya tidak diselesaikan, lewat pendekatan budaya, tokoh adat, dan edukasi, kekerasan ini akan terus berulang. Hukum perlu, tapi tak bisa bekerja sendirian,” sebutnya.
Kasus ini jadi alarm keras bagi semua pihak: aparat, pemerintah, tokoh adat, agama, dan pendidik. Tanpa kerja sama lintas sektor, Tompaso dan desa-desa lain di Minahasa, akan terus hidup dalam bayang-bayang konflik horizontal. Generasi mudanya pun bisa terseret semakin jauh dari nilai-nilai toleransi dan persaudaraan. (riz)













